Susana Ekawati

MAKALAH KELOMPOK

DISIPLIN KELIMA PETER SENGE

(Tugas Mata Kuliah Kepemimpinan Dalam Organisasi Belajar)

Dosen Pengampu :

Dr. Herpratiwi, M.Pd

Drs. Danial Achmad,M.Pd

Disusun oleh :

Eria Apriyani

Nurini

Risnawati

Rubaithy

Santi Marlia Sakti

Susana Ekawati

PROGRAM PASCASARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2009

DISIPLIN KELIMA PETER SENGE

(Tugas Mata Kuliah Kepemimpinan Dalam Organisasi Belajar)

RUBAITHY,  RISNAWATI,   ERIA APRIYANI,  SANTI  MARLIA, SUSANA EKAWATI, NURINI

_________________________________________________________________________________________________

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Learning organization (LO) atau organisasi pembelajar adalah organisasi yang memberikan kesempatan dan mendorong setiap individu yang ada dalam organisasi tersebut untuk terus belajar dan memperluas kapasitas dirinya. Dia merupakan organisasi yang siap menghadapi perubahan dengan mengelola perubahan itu sendiri (managing change). Untuk memulai mentransformasikan organisasi di mana kita berada sekarang, terlebih dulu, mari kita cermati komponen-komponen penting yang harus ada dalam organisasi pembelajar,  (1).   Learning (Belajar), (2).  Organization (Organisasi), (3). People (Orang), (4).  Knowlegde (Pengetahuan), (5).  Technology (Teknologi). Secara kasat mata, kelima komponen diatas ada dalam organisasi manapun, baik organisasi konvensional maupun organisasi modern yang sudah menerapkan prinsip-prinsip pengembangan organisasi.

Organisasi Pembelajar didasarkan atas beberapa ide dan prinsip yang integral kedalam struktur organisasi. Dr. Peter Senge dalam hal ini menyebutkan bahwa inti dari Organisasi Pembelajar adalah Disiplin Kelima (The Fifth Discipline), kelima disiplin itu adalah: Keahlian Pribadi (Personal Mastery), Model Mental (Mental Model), Visi Bersama (Shared Vision), Pembelajaran Tim (Team Learning), dan Pemikiran Sistem (System Thinking).

Menurut Miarso (2002) dalam Prawiradilaga (2004) mengemukakan beberapa alasan mengapa saat ini diperlukan organisasi belajar, yaitu (1) dalam rangka pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, kita tidak lagi mengandalkan tersedianya tenaga kerja yang banyak dan murah, melainkan tenaga yang terdidik, terlatih dan menguasai informasi dengan baik, (2) pengembangan informasi yang lebih berorientasi pada lingkungan internal dianggap tidak tepat lagi.  Sejalan dengan masyarakat informasi, maka organisasi perlu menguasai informasi mengenai lingkungan secara konferhensif.

1.2  Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan Penulisan Makalah ini adalah memahami penjabaran dari lima prinsip organisasi belajar yang dikemukakan oleh Peter Senge.

PEMBAHASAN

1. BERPIKIR SISTEM

Berpikir system mencakup sekumpulan besar metode, alat dan prinsip yang agak tidak berbentuk yang semua diorientasikan untuk melihat kesaling- terkaitan antara kekuatan- kekuatan dan melihatnya sebagai bagian dari suatu proses bersama.

Suatu system merupakan suatu keseluruhan yang dirasakan unsure-unsurnya “ tergantung bersama” karena unsur- unsur itu terus menerus saling mempengaruhi dari waktu kewaktu dan beroperasi menuju suatu tujuan bersama.

STRUKTUR SISTEMIK

Dalam berpikir system, “struktur” adalah pola hubungan yang saling terkait antar komponen- komponen utama dari system tersebut. Hal itu mencakup hierarki dan arus proses , namun juga mencakup sikap dan persepsi, mutu produk, cara- cara dimana keputusan dibuat, dan ratusan factor lainnya.

POLA DASAR

Pola dasar berasal dari kata archetypos dalam bahasa yunani, yang berarti “ yang pertama dalam jenisnya “. Pola dasar ini juga merupakan bagian dari bidang berpikir system.

Ada beberapa macam pola dasar yaitu:

  1. Penyelesaian- penyelesaian yang memperburuk masalah

Tema utama dari pola dasar ini adalah bahwa hampir setiap keputusan mempunyai konsekuensi jangka panjang dan jangka pendek, dan keduanya seringkali bertentangan.

Contoh kasus, “ perampingan untuk meningkatkan laba “ , suatu perusahaan mengurangi jumlah staf yang sudah tua karena pada umumnya bergaji tinggi untuk meningkatkan biaya dan meningkatkan profitabilitas. Tetapi dilain pihak pemangkasan staf ini menghilangkan beberapa staf senior dan berpengalaman.

Strategi untuk situasi “ Penyelesaian yang memperburuk masalah”

  • Meningkatkan kesadaran akan konsekuensi- konsekuensi yang tidak diharapkan
  • Pilihlah intervensi yang menghasilkan konsekuensi- konsekuensi yang paling tidak membahayakan atau paling bias dikendalikan
  • Mencari penyelesaian alternative dimana konsekuensi- konsekuensi yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan tidak terlalu menghancurkan
  • Susunlah kembali dan tanganilah akar permasalahannya
  1. Batas- batas pertumbuhan

Pola dasar” batas- batas pertumbuhan “, membantu kita melihat bagaimana keseimbangan antara unsure- unsure ini bergeser dari waktu ke waktu. Ini sangat membantu kita untuk memahami cara- cara dimana, dengan menekan keras untuk mengatasi batasan- batasan dalam kehidupan kita, kita membuat dampak dari batasan- batasan itu lebih buruk daripada yang seharusnya.

Contoh kasus, “ artis perangkat lunak”, perangkat keras computer terus menjadi “ semakin cepat, semakin murah, dan semakin baik”  dengan suatu tingkat yang mengherankan, tanpa terlihat ada batasnya. Akan tetapi, produksi perangkat lunak untuk mesin- mesin yang semakin kompleks ini ketinggalan karena ada batas- batas terhadap kegunaan dan kepopuleran computer.

Strategi untuk situasi “ batas- batas pertumbuhan”

  • Berhati- hatilah dalam melakukan lebih banyak hal yang telah berhasil dimasa lalu
  • Kurangi kecenderungan alami kitauntuk mencari apa yang berhasil dimasa lalu dan terus menggandakan kembali upaya itu dan bukannya memberikan batas- batas
  • Perlu diingat suatu penundaan yang panjang bias mendorong system melampaui kapasitasnya
  • Buat suatu ukuran yang bias anda ambil sehingga ketika anda bertumbuh, kapasitas anda untuk menangani batas- batas anda juga meningkat
  • Harus mampu memperkuat sumberdaya yang mendorong pertumbuhan kita
  1. Menggeser beban

Pola “ menggeser beban”, menyatakan suatu jenis penyelesaian yang berbeda untuk gejala masalah. Putaran yang diatas merupakan suatu penyelesaian cepat yang menangani gejalanya saja, putaran yang dibawah menyatakan ukuran- ukuran yang memerlukan waktu   lebih banyak dan seringkali lebih sulit, namun akhirnya mengatasi masalah realnya.

Contoh kasus, “ kepahlawanan krisis “, ketika suatu krisis seperti penundaan peluncuran produk menyerang, manajer krisis diberi kefleksibelan besar untuk melakukan apapun yang perlu dilakukan untuk menjual produk.

Strategi untuk situasi “ Menggeser beban “

  • Pahamilah gejala masalah apa yang anda coba selesaikan, hasil apa yang tidak diharapkan, penyelesaian apa yang anda coba dan hasil apa yang tidak diharapkan serta bagaimana hasil itu mempengaruhi sumber awal permasalahan
  • Gunakan pola dasar menggeser beban sebagai suatunalat penyeledikan, bukan sebagai alat untuk pembelaan
  • Perkuat penyelesaian untuk jangka panjang
  • Jika mungkin, berikan dukungan hanya kepada penyelesaian jangka panjang , abaikan gejala- gejalanya
  • Suarakan visi atau sasaran jangka panjang anda seputar masalah ini
  • Ketika anda, memperkuat kemampuan jangka panjang, lakukan apa yang bias anda lakukan untuk mengurangi ketergantungan pada penyelesaian jangka pendek
  1. Tragedi “ Commons “

Pola “ tragedi commons”, terdiri dari dua pola atau lebih pola dasar  batas- batas pertumbuhan yang terkait semuanya berbagi suatu rintangan bersama atau batas yang tertentu.

Contoh kasus, “ Tragedi pasokan listrik” dalam proyek Fords 1994 Lincoln Continental, jumlah komponen yang menghabiskan tenaga listrik yang didesain untuk mobil tersebut membebani kekuatan aki yang tersedia secara berlebihan. Tidak ada seorang perancang komponenpu yang mau membatalkan atau mengurangi konsumsi listrik mereka, karena mereka berkepentingan untuk mendesain komponen listrik dengan fungsional tinggi. Dengan mengenali batas- batas tersebut, setiap tim desai, dalam kelompoknya sendiri , menambahkan lebih banyak lagi fungsionalitas, untuk membenarkan pembagian sebanyak mungkin tenaga aki dari common good.

Strategi untuk situasi “ Tragedi Commons”

  • Waspadalah terhadap godaan untuk mengangsumsikan bahwa segala sesuatu yang tampak seperti tragedy commons memerlukan suatu intervensi dari suatu otoritas yang lebih tinggi.
  • Dalam setiap situasi harus ada suatu peraturan yang berlaku untuk common good yang memandatkan suatu sasaran bersama atau titik fokal
  1. Permusuhan yang bersifat kebetulan

Pola dasar ini menjelaskan bagaimana kelompok orang- orangyang harus berada dalam kemitraan satu sama lain, dan yang ingin berada dalam kemitraan satu sama lain dan berakhir dengan permusuhan yang pahit.

Contoh kasus, Sebagai dua diantara perusahaan yang paling mampu didunia, Procter & Gamble dan Wal Mart telah lama menyadari keuntungan yang bias didapatkan dengan bekerjasama secara erat dengan distributor dan pemasok mereka. Tetapi pada pertengahan 1980 , kedua perusahaan menyadari bahwa hubungan mereka telah memburuk sebagian sebagai suatu hasil dari suatu pola perilaku yang telah berlangsung selama lima tahun.

Strategi untuk situasi “ Permusuhan yang tidak disengaja “

  • Jangan melanjutkan penyelesaian atau solusi bertujuan baik yang berlaku untuk organisasi anda sendiri. Sebaliknya, berusahalah untuk memperkuat pemahaman anda tentang kebutuhan- kebutuhan mendasar mitra anda, bagaimana anda secara tidak sengaja menghancurkan mereka, dan bagaimana anda bias saling mendukung.

2.   KEAHLIAN PRIBADI

Setiap orang harus mempunyai komitmen untuk belajar sepanjang hayat dan sebagai anggota organisasi perlu mengembangkan potensinya secara optimal. Penguasaan pribadi ini merupakan suatu disiplin yang antara lain menunjukkan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan energi, mengembangkan kesabaran, dan memandang realitas secara objektif. Kenyataan menunjukkan bahwa seseorang memasuki organisasi dengan penuh semangat, tetapi setelah merasa mapan dalam organisasi itu lalu kehilangan semangatnya. Oleh karena itu, disiplin ini sangat penting artinya bahkan menjadi landasan untuk organisasi belajar.

1. Strategi Untuk Mengembangkan Keahlian Pribadi

Mengapa kita harus menawarkan dorongan semangat dan dukungan ini? Karena semakin jelas bahwa pembelajaran tidak terjadi dengan cara yang tahan lama kecuali jika itu dipicu oleh minat dan keingintahuan yang penuh semangat dari orang itu sendiri. Ketika pemicunya tidak ada, orang-orang dengan mengalah menerima pelatihan dalam suatu subjek-kendali proses statistic, pengembangan eksekutif, atau perencanaan untuk perekayasaan ulang. Dampak-dampak dari latihan itu terasa untuk sementara, namun tanpa komitmen, orang-orang yang dilatih itu berhenti menggunakan keahlian-keahlian baru tersebut. Secara bertahap, mereka melupakannya secara sistematis, sering kali dimulai dengan prinsip-prinsip dan teori-teori yang membuat latihan tersebut begitu berharga pada mulanya.

”Apa yang sedang terjadi sekarang juga, pada waktu ini?” Ketika orang-orang belajar melatih secara lebih efektif, teknik-teknik tersebut mengalir naik turun dalam organisasi, karena pelatihan, seperti sebagian besar metode keahlian pribadi, paling baik dipelajari melalui teladan. Praktik utama keahlian pribadi mencakup belajar untuk mempertahankan visi

2. Loyalitas kepada Kebenaran

Melihat dan mengatakan kebenaran merupakan suatu unsur fundamental dari keahlian pribadi, dan unsur fundamental dari disiplin visi bersama yang terkait. (Kebenaran , dalam hal ini, tidak berarti “kebenaran mutlak,” melainkan sekedar kebenaran seperti Anda lihat). “Karena ketegangan kreatif tergantung pada suatu pemahaman yang jernih tentang realitas saat ini, maka ketegangan kreatif itu segera hilang ketika orang-orang berbohong kepada diri mereka sendiri atau satu sama lain.

3. Kekuatan Pilihan

Membuat suatu pilihan jauh lebih dahsyat daripada berkata, “Saya ingin…” bahkan ketika visinya sendiri benar-benar sama. Setelah memilih, visi itu sendiri terasa lebih kaya, dan tugas untuk mencapainya menjadi lebih kreatif. Sebagaimana halnya dengan setiap pilihan yang mengubah hidup-suatu pernikahan, pilihan untuk melahirkan seorang bayi ke dunia, atau pilihan suatu karier-ada suatu rasa pemeliharaan yang terpancing. Anda menjadi seorang pelayan bagi visi yang telah Anda pilih itu: seorang mitra dalam proses membuatnya menjadi kenyataan.

4. Inovasi dalam Infrastruktur untuk Mendorong Keahlian Pribadi

Salah satu aspek yang paling memikat dari keahlian pribadi adlah perubahan yang dihasilkannya dalam suatu rancangan organisasi. Ketika organisasi-organisasi menguasai keahlian pribadi, mereka didorong untuk memikirkan kembali investasi mereka dalam pengambangkan kemampuan karyawan. Ini tidak hanya melibatkan suatu investasi dalam bentuk uang. Untuk mendorong keahlian pribadi, suatu organisasi harus menginvestasikan kepintaran, waktu, dan perhatian, dengan menggunakan masalah untuk mendesain unsur-unsur baru dari infrastruktur.

5. Menanamkan Keahlian Pribadi di Beckman Instruments Wilson Bullard

Wilson Bullard adalah pemimpin kelompok pengembangan produk di Beckman Instruments. Salah seorang dari sangat sedikitnya manajer yang secara pribadi melakukan upaya keahlian pribadi, yang mengandalkan ketekunana dan keyakinannya sendiri. Ketika orang-orang tidak mendapatkan hasil-hasil yang seketika, mereka sering kali ingin menghentikan eksperimen. Wilson berkata, “Mari kita memberinya waktu lebih lama.” Ia benar: diperlukan enam bulan atau lebih bagi Beckman untuk menunjukkan hasil. Ini mungkin tampak seperti sebuah kisah yang sederhana, namun ini adalah salah satu kisah yang paling dahsyat dalam buku ini, karena kisah ini menunjukkan apa yang diperlukan untuk menguasai materi ini.

6. Keahlian Intrapersonal

Praktik keahlian pribadi tradisional dipusatkan pada suatu pergeseran pandangan orang-orang tentang hubungan mereka dengan dunia. Dalam istilah Robert Fritz, pergeseran tersebut adalah sikap dari sikap yang “reaktif” (berespons terhadap peristiwa), menjadi “kreatif” (menciptakan masa depan yang Anda inginkan). Sekarang saya yakin bahwa, ketika orang-orang mempraktikkan keahlian pribadi, mereka bias mulai masuk ke dalam suatu orientasi ketiga: “ saling tergantung,” di mana Anda dan dunia saling berhubungan secara harmonis. Pergeseran antar orientasi-orientasi merupakan hal yang sangat penting karena itu mempengaruhi setiap aspek kemampuan seseorang untuk berpartisipasi dalam pembangunan organisasi pembelajaran. Itu mempengaruhi cara individu-individu menarik pelajaran dari pengalaman; cara mereka memahami dan bertindak berdasarka system; dan jenis-jenis visi yang mereka ciptakan.

3.  STRATEGI-STRATEGI  UNTUK BEKERJA DENGAN MODEL-MODEL MENTAL

Model- model mental merupakan gambaran, asumsi dan kisah yang kita  bawa dalam benak kita tentang diri kita sendiri, orang lain, lembaga-lembaga dan setiap aspek dari dunia ini.  Model-model mental menentukan apa yang kita lihat.  Model-model mental juga membentuk bagaimana kita bertindak.  Misalnya, jika kita yakin bahwa manusia pada dasarnya dapat dipercaya, kita mungkin berbicara dengan kenalan baru dengan jauh lebih bebas daripada jika kita yakin bahwa sebagian besar orang tidak dapat dipercaya.  Model mental pada umumnya tidak dapat kita lihat, sampai kita mencarinya.  Tugas utama dari disiplin ini adalah membawa model-model mental kepermukaan, menggali dan berbicara tentangnya dengan pembelaan diri yang minimal untuk membantu kita melihat dengan jelas, melihat dampaknya terhadap kehidupan kita dan menemukan cara untuk  menciptakan model-model mental baru yang melayani kita dengan lebih baik di dunia ini.

MODEL-MODEL MENTAL

Konsep model-model mental diciptakan oleh seorang psikolog Skotlandia Kenneth Craik pada tahun 1940-an. Selanjutnya digunakan oleh para psikolog, ilmuwan koginitif dan manajer.  Menurut beberapa ahli teori kognitif, peruibahan-perubahan dalam model-model mental setiap hari jangka pendek yang terakumulasi dari waktu ke waktu, secara bertahap akan dicerminkan dalam perubahan-perubahan keyakinan jangka panjang yang mendalam.

SKENARIO DAN LABORATORIUM PEMBELAJARAN

Batas-batas dari disiplin ini ada pada penciptaan inovasi dalam infrastruktur dimana bekerja dengan model-model mental dapat terjadi.  Salah satu inovasi  paling berpengaruh, yaitu perencanaan scenario.  Tugas menyusun scenario  secara tradisioanl mendorong manusia untuk melihat ke luar, menggunakan cerita-cerita tentang masa depan untuk mengemukakan asumsi-asumsi tentang kekuatan-kekuatan bisnis dan politik saat ini.  Secara bertahap, tugas ini tampak mencakup lebih banyak stabilitas untuk meningkatkan pemahaman antar pribadi.  Keuntungan dari scenario tersebut adalah, tidak seperti dalam suatu negosiasi, orang-orang tidak harus mengerjakan konstituen-konstituen mereka, namun mereka bisa melihat suatu bahasa bersama, suatu cara umum untuk memahami dunia yang muncul cukup awal dalam proses tersebut.  Begitu proses sekanario berakhir, bahasa bersama itu seharusnya membuat negosiasi-negosiasi berikutnya menjadi lebih mudah untuk diakhiri secara sukses.

Fungsi model-model mental juga sangat penting untuk desain laboratorium-laboratorium pembelajaran.  ketika latihan perenungan dan penyelidikan dibangun di dalamnya, laboratorium-laboratorium menjadi arena praktis model mental, dimana orang-orang mengembangkan keahlian untuk berbicara tentan asumsi-asumsi mereka dalam “waktu real” pada saat mereka menangani suatu isu. Kemampuan untuk berbicara secaha koheren tentang sikap dan keyakinan, untuk memungkinkan orang lain menunjukkan sikap dan  keyakinan dengan keterlibatan namun ranpa rasa dendam dan untuk melihat secara lebih jelas sumber-sumber tindakan anda sendiri, semuanya akan meningkat bersama semakin seringnya kita mempraktekkannya bersama praktik tim yang disusun dan didukung dengan baik.

BERPRAKTEK BERSAMA DARI WAKTU KE WAKTU

Cara yang paling produktif untuk memperlajari keahliah-keahlian baru ini adalah pada saat kita berusaha untuk mengetahui latar belakang model-model mental yang telah menciptakan masalah-masalah bisnis yang kronis. Adakan sesi-sesi rutin dengan tim yang sama selama beberapa bulan dengan ahli dalam disiplin untuk membantu tim tersebut.

BERSIAPLAH UNTUK MENANGANI  EMOSI-EMOSI YANG KUAT

Orang yang menerima sudut pandang-sudut pandang yang berbeda secara intelektual mungkin mempunyai masalah dengan emosi-emosi yang dimunculkan oleh pekerjaan ini.  Karena sebagian besar tim manajemen mempunyai sedikit pengalaman sebagai suatu tim dalam menangani emosi-emosi yang hebat, sering kali mereka membiarkan emosi-emosi yang hebat seperti itu , seringkali mereka membiarkan emosi-emosi tersebut memanas, kecemasan dan ketidakpastian berubah menjadi oposisi dan perasaan dikhianati, dan bukannya penyelidikan dan pembelajaran yang sejati.

MENGGUNAKAN JENJANG KESIMPULAN

Anda tidak bisa menjalani kehidupan anda tanpa menambahkan makna atau menarik kesimpulan. Anda bisa memperbaiki komunikasi anda melalui perenungan, dan dengan menggunakan jenjang kesimpulan dengan tiga cara :

  • Menjadi lebih sadar akan pemikiran dan pertimbangan anda sendiri (perenungan)
  • Membuat pemikiran dan pertimbangan anda lebih dapat dilihat oleh orang lain (pembelaan)
  • Menyelidiki pemikiran dan pertimbangan orang lain (penyelidikan)

Dilekatkan pada praktek tim, jenjang ini menjadi suatu alat yang sangat sehat.  Ada suatu yang menyenangkan dalam hal menunjukkan kepada orang lain tentang hubungan-hubungan dari pertimbangan anda. Mereka mungkin atau mungkin tidak setuju dengan anda, namun mereka bisa melihat bagaimana anda bisa sampai kepada kesimpulan itu.

PROTOKOL YANG MENYEIMBANGKAN PEMBELAAN DAN PENYELIDIKAN

Menyeimbangkan pembelaan dan penyelidikan merupakan suatu cara bagi individu, yang mereka lakukan sendri untuk mulai mengubah suatu organisasi besar dari dalam

  1. Protokol –protokol untuk pembelaanyang lebih baik
  • Buatlah proses berfikir anda bisa dilihat (menaiki jenjang pengaruh secara perlahan)
  • Ujilah kesimpulan dan asumsi anda di depan umum
  • Mintalah orang lain untuk membuat proses berpikir mereka bisa dilihat
  • Bandingkan asumsi-asumsi anda dengan asumsi-asumsi mereka
  1. Protokol-protokol untuk penyelidikan yang lebih baik
  1. Protocol-protokol untuk menghadapi sudut pandang yang tidak anda setujui
  2. Protocol-protokol ketika anda menemui jalan buntu

NILAI RESEP

Pembelajaran keahlian dimulai dengan resep.  Dilema yang dihadapi dalam bagaimana menerapkan jenjang pengaruh, sebelum praktek maka anda meringkas dilema tersebut dengan beberapa peraturan berikut ini:

  1. Identifikasi kesimpulan yang diambil seseorang
  2. Tanyakan data yang membawa pada kesimpulan itu
  3. Selidikilah dasar-dasar pemikiran yang menghubungkan data dan kesimpulan
  4. Ambilah suatu keyakinan atau asumsi yang mungkin
  5. Nyatakan kesimpulan anda dan ujilah itu bersama orang lain

MEMASUKKAN RESEP-RESEP DALAM KEUSANGAN

Berikut ini adalah beberapa peraturan dan tuntutan untuk melakukan peraturan dan tuntutan. Ini juga merupakan resep, peraturan tuntutan ini juga harus dibuat berjalan dengan sendirinya dalam suatu pekerjaan.

  1. Periksalah percakapan anda sendiri kelak
  2. Mencari strategi-strategi umum untuk memperbaiki penggunaan “resep” anda
  3. Letakkan diri anda sendiri pada tempat yang menguntungkan orang lain.
  4. Menanyakan perspektif dari orang-orang yang bekerjasama dengan anda.

TEACHING SMART PEOPLE HOW TO LEARN (MENGAJAR ORANG-ORANG PNITAR BAGAIMANA CARA BELAJAR)

“Skilled incomoetence” berfokus pada dasar pemikiran bahwa orang-orang paling ahli dalam komunikasi sehari-hari tidak bisa menggali model-model mental mereka sebelum mereka belajar untuk meninggalkan cara mlindungi diri mereka sendiri dari perasaan terancam.

“Teaching smart people how to learn”  menyatakan bahwa sebagian besar dari kita bisa menanamkan kerentanan yang intelektual dan emosional akan kegagalan, tanpa harus benar-benar gagal.

MENULISKAN LOYALITAS ANDA

Latihan  ini mempunyai dua tujuan : untuk membantu anda melihat model-model mental anda sendiri tentan orang-orang kunci dalam organisasi secara lebih jelas dan untuk praktik melihat suatu isu yang sulit melalui lebih dari satu perspektif.  Ini mungkin juga membantu anda untuk mempelajari kecerdasan politis.

Ini merupakan suatu latihan yang sulit, khususnya bagi orang-orang yang tidak suka menulis.  Namun latihan ini paling berguna untuk membantu orang-orang yang memiliki rintangan dalam menulis.  Langkah-langkah latihan adalah sebagai berikut

  1. Mendaftarkan  loyalitas,

Pilihlah suatu situasi atau isu sulit yan sedang anda hadapi sekarang

  1. Pilihlah  dua plus kebenaran,

Pilihlah dua loyalitas yang paling anda pedulikan (nanti anda akan kembali untuk melihat yang lainnya)

  1. Laporan  untuk kebenaran,

Tulislah sebuah uraian tentang situasi tersebut, sebuah laporan seakan-akan kebenaran adalah satu-satunya loyalitas anda. Cukup dengan 3 paragrap saja : sebuah pembuka tirai (paragrampembuka), sebuah nut graf (paragram utama tematik), sebuah penutup (paragraph penutup)

  1. Laporan untuk loyalitas anda

Tulislah sebuah laporan terpisah untuk msing-masing dari dua loyalitas yang anda pilih.  Ketika anda menulis, tetap bayangkan dalam benak anda bahwa orang itu membaca setiap kata yang anda tulis.  Ini akan menjadi “tiang penyangga” untuk laporan actual yang akhirnya akan anda tulis.  Buat dalam 3 paragram seperti sebelumnya.

  1. Analisis loyalitas

Bacalah lagi laporan-laporan tersebut, seakan-akan anda membacanya untuk pertama kalinya. Dan analisis lah.

  1. Laporan akhir

Anda bisa memilih bagian-bagian dari konsep akhir anda di antar versi-versi dari tiga versi paragaraf pembuka, “nut graf,” dan penutup. Buatlah laporan akhir.

  1. Menguji asumsi-asumsi anda (optional)

Tunjukkan materi yang telah anda tulis kepada A dan B.  Tunjukkan kepada mereka versi-versi mereka dan versus versi yang ditulis untuk kebenaran, versus tiga paragrap ekuivalen dari versi terakhir anda.  Tanyakan kepada mereka mana yang lebih mereka sukai.

KEMANAKAH KITA MENUJU DARI SINI

  1. Ke pembelajaran tim :  banyak teknik-teknik model mental yang serupa dengan praktek-praktek pembelajaran tim.
  2. Ke keahlian pribadi :  praktik model-model mental menarik perhatian kepada model-model dan asumsi-asumsi pribadi tentang diri anda sendiri dan di mana tempat anda yang pas di dunia.  Jadi bagi banyak orang, hal ini manambah sifat kemendesakan kepada kebutuhan untuk mempraktekkan keahlian pribadi
  3. Ke berpikir system: ketika anda dan tim anda mengungkapakan model-model mental anda yang dominan, anda akan mulai memikirkan bagaimana membangun organsisai anda untuk mendukung model bisnis  baru.  Berpikir sistem akan menjadi suatu langkah alami selanjutnya dalam proses tersebut.

4.   VISI BERSAMA

1.1 Strategi-strategi untuk membangun visi bersama.

Membangun visi bersama, terkadang tidak menyelesaikan banyak masalah itu sendiri; melainkan menciptakan suatu lingkungan di mana orang-orang yakin bahwa mereka merupakan bagian dari suatu komunitas umum. Saat ini banyak pemimpin yang berusaha untuk mencapai komitmen dan fokus yang muncul bersama visi yang dibagikan secara tulus. Sayangnya masih banyak yang beranggapan bahwa sebuah visi merupakan tugas pemimpin tertiggi.

A. Visi Bersama : sebagai wahana untuk membangun makna

Suatu strategi yang sukses untuk membangun sebuah visi bersama akan dibangun berdasarkan beberapa prinsip utama:

  • setiap organisasi mempunyai suatu nasib, tujuan mendalam yang mengekspresikan alasan eksistensi organisasi.
  • Petunjuk-petunjuk untuk memahami tujuan yang lebih dalam dari suatu organisasi sering kali bisa ditemukan dalam aspirasi-aspirasi para pedirinya dan dalam alasan-alasan mengapa industrinya muncul.
  • Tidak semua visi itu sama.
  • Mempunyai pemahaman bersama tentang tujuan yang mendasarinya. Untuk menjadi lebih sadar akan tujuan organisasi, bertanyalah kepada anggota organisasi dan belajarlah untuk mendengarkan jawabannya.
  • Inti dari pembangunan visi bersama adalah tugas mendesain dan mengembangkan proses-proses yang berkelanjutan.
  • Mempunyai gambaran yang jelas tentang visi yang sejajar dengan kondisi saat ini.

Pada hakikatnya disiplin visi bersama ini terfokus pada pembangunan makna bersama, secara potensial dimana makna bersama ini tidak ada sebelumnya. Makna bersama merupakan suatu pemahaman bersama tentang apa yang penting, dan mengapa. Membangun visi bersama bisa menjadi suatu cara yang efektif untuk menyuarakan ”gagasan-gasan penuntun” suatu organisasi.

B. Jaringan dan Komunitas

Infrastruktur – infastruktur yang sedang bermunculan yang memungkinka pembangunan visi bersama didasarkan pada sikap yang memandang sebuah organisasi sebagai suatu set komunitas yang saling tumpang tindih yang terbentuk di atas makna bersama. Jika organisasi dipandang sebagai suatu komunitas, maka para pemimpin akan memperlakukan anggota-anggota sebagai sukarelawan yang telah memilih untuk memberikan waktu mereka pada perusahaan.

C. Visi, Nilai-nilai, Tujuan, Sasaran

Visi merupakan suatu komponen dari aspirasi-aspirasi penuntun organisasi. Inti dari prinsip-prinsip penuntun terseburt adalah pemahaman tentang tujuan dan nasib bersama, termasuk semua komponen-komponen seperti:

1. Visi

Suatu visi merupakan suatu gambaran tentang masa depan yang coba diciptakan, yang diuraikan dalam tata bahasa yang seakan-akan terjadi sekarang. Karena sifatnya yang kasat mata dan langsung, suatu visi memberikan bentuk dan arah pada masa depan organisasi.

2. Nilai-nilai

Kata nilai berasal dari kata kerja dalam bahasa Perancis valoir, yang berarti ”bernilai”. Kata ini secara bertahap mengembangkan suatu hubungan keberanian dan kelayakan. Nilai-nilai menguraikan bagaimana cara kita mengejar visi.

3.Tujuan atau Misi

Misi” berasal dari bahasa latin mittere, yang berarti ”melemparkan, melepasakan atau mengirim”. Kata ”tujuan” juga berasal dari bahasa latin ”proponere” yang berarti ”menyatakan”. Kata misi dan tujuan merupakan alasan fundamental untuk keberadaan organisasi.

4. Sasaran

Setiap upaya visi bersama tidak hanya memerlukan suatu visi yang luas, namun juga sasaran yang spesifik dan dapat direalisasikan. Sasaran-sasaran menyatakan apa yang akan dilakukan oleh orang-orang sesuai dengan komitmen.

Dalam membangun visi bersama, dibarengi dengan perenungan yang terus menerus tengan masalah-masalah yang ada, maka tentu saja hal ini dapat membantu untuk mendapatkan aspirasi-aspirasi baru yang membuka wawasan pengetahuan.

1.2 Harapan ketika membangun visi bersama.

Pada tahap awal proses penentuan visi organisasi akan tampak lebih sulit dikelola dari pada sebelumnya. Ketika proses penentuan visi diimplementasikan, para pemimpin perlu hadir dan menyediakan diri untuk berbicara, mendengarkan, dan memberikan mentoring kepada para karyawan. Dengan mempersiapkan waktu dan kesabaran, maka pemimpin dapat menyelaraskan komitmen bersama.

Harapan yang dapat dibangun diantaranya : Melihat Kesuksesan terdahulu, Menjaga visi tetap fleksibel, Menyelaraskan seluruh satuan kerja.

1.3 Cara memulai membangun visi bersama

Pada umumnya hal ini paling efektif ditangani melalui kemitraan antara manager senior yang bertanggung jawab atas suatu organisasi, dan seorang pengurus “visi” yang ahli atau berkomitmen. Ada suatu strategi yang digunakan untuk membangun visi bersama yakni : mengatakan, menjual, menguji, konsultasi, menciptakan bersama.   Oleh karena itu strategi-strategi visi bersama haruslah bersifat pengembangan, yang dapat membantu membangun kapasitas mendengarkan pimpinan.

1.4 Surat kepada Mitra CEO

Dalam organisasi ada beberapa pertanyaan yang mungkin dapat menjadi prtimbangan dalam mengembangkan visi bersama. Diantaranya:

  • seberapa siapkah para anggota organisasi membangkitkan visi?
  • Bagaimana hubungan dengan ”atasan”?
  • Bagaimana menyatukan atasan dengan organisasi?

Dengan mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan tersebut maka kemungkinan akan sangat membantu dalam mentukan visi bersama. Dalam organisasi tidak mungkin tidak ada atasan. Karakter dari tiap individu sebagai atasan tentu berbeda-beda. Jika atasan hilamg kesabaran hal yang diperlukan adalah dengan penjelasan yang masuk akal, kekuatan, keterbukaan dan kepercayaan.

Apa yang sebenarnya ingin diciptakan dalam sebuah organisasi? Ini merupakan sebuah pertanyaan untuk membangun suati visi bersama. Jawabannya mungkin mberagam. Yang jelas kita haru mengetahui: visi tentang masa depan, realitas saat ini.

1.5 Prioritas-prioritas Strategis

Suatu prioritas strategis yang baik dikaitkan secar jelas dengan visi bersama, dan mampu menempa komitmen dari orang-orang dalam tim tersebut.  Jika sebuah tim telah menyepakati satu set prioritas strategis, maka mereka mempunyai satu set peristiwa-peristiwa penting dan memiliki bidang praktis didalamnya.

5. PEMBELAJARAN TIM

Belajar Tim dan Belajar Umum (Public and Team Learning).

Belajar Tim adalah suatu keahlian percakapan dan keahlian berpikir kolektif, sehingga kelompok-kelompok manusia secara dapat diandalkan bisa mengembangkan kecerdasan dan kemampuan yang lebih besar dari pada jumlah bakat para anggotanya. Public learning sendiri mengarah pada prinsip-prinsip melalui individu-individu yang didorong untuk belajar secara terbuka dan menggali apa yang tidak mereka ketahui sekarang

Dialog adalah suatu bagian yang fundamental dari Organisasi Pembelajar. Dalam arti yang sederhana, dialog adalah komunikasi. Ini adalah gabungan dari berbagai interaksi dalam organisasi. Melalui dialog, setiap individu dengan interaktif menggali dan menyelesaikan satu atau seluruh aspek tindakan yang ada dalam organisasi, bagaimana mereka menerima sistem dan struktur dari organisasi, apa visi organisasi mereka.

Dialog merupakan bagian yang penting dari Public Learning. Hanya dengan dialog, individu dapat menggali dengan interaktif berbagai isu yang ada dalam organisasi. Poin penting dari dialog adalah tidak hanya untuk memahami apa yang terjadi dalam organisasi, bagaimana individu mendapatkan pengalaman struktur dan proses dalam organisasi, tapi juga untuk mengarahkan model-model baru, keterbukaan baru, dan tujuan baru untuk mendapatkan tindakan yang lebih efektif dan pemahaman dan keyakinan yang mendalam.

Prinsip –prinsip pembelajaran

Ada beberapa pendekatan yang sukses untuk meningkatkan mutu  dari suatu organisasi pembelajaran antara lain :

  • Penurunan signifikan masalah-masalah konsumen.  Berpindah dari suatu budaya mendeteksi kesalahan setelah fakta menjadi mencegah kesalahan dengan meningkatkan proses.
  • Peningkatan kepuasan pelanggan
  • Lebih banyak berpartisipasi
  • Tidak terjerumus dalam perangkap yaitu dengan penolakan terhadap angka-angka yang menjadikan kita perhitungan dan tidak berhakikat pada mutu total yaitu pengukuran
  • Dalam strategi yang baik, ukuran memamg diperlukan untuk mengumpulkan data-data tetapi yang diperlukan hanya mengajarkan teknik-teknik umum
  • Mengadakan perubahan mulai dari yang diatas atau pemegang kebijakan
  • Kurang analisis manajemen harus diatur sistemnya agar bisa berjalan semuanya

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan suatu produk:

  • Dapat atau tidaknya suatu desain diterima oleh public
  • Motivasi intrinsic, kerjasama dan sifat-sifat manusia yang lain yang membuat hasil-hasil bisa menjadi kenyataan
  • Kapasitas suatu perusahaan untuk menghasilkan penemuan dan inovasi produk-produk baru utama
  • Potensi untuk ekspansi pasar
  • Manfaat pendidikan dan pelatihan

Kemampuan fundamental suatu organisasi untuk membentuk masa depannya dapat dilakukan dengan memasukkan manajemen mutu total dengan cara berpikir system tentang organisasi, membangun strukturnya, mendesainnya dan mengoperasikannya. Tetapi pada kenyataannya sekarang ini kita hanya mengemas metode manajemen lama berdasarkan angka lama dengan kemasan baru.

Kinerja suatu organisasi ditentukan oleh:

-          Lingkungan perusahaan

Harus berusaha untuk memahami hal-hal tentang lingkungan dan dengan orang lain. Tujuan dari hal-hal yang berkenaan dengan lingkungan organisasi adalah untuk membentuk dunia secara lebih strategis

-          Memasukkan visi lingkungan di dalam organisasi agar mendapatkan keuntungan sebesarnya dan ada potensi penghematan

Jika kita sudah menjaga/mencegah kerusakan lingkungan maka hal itu akan membawa keuntungan karena tidak mengeluarkan biaya yang besar

-          Tekanan untuk menahan informasi : diperlukannya modal mental  yang mengandung kebenaran, keberanian atau resiko penuntutan secara hokum, pengeluaran ekstra dan tanggung jawab pribadi

-          Mengembangkan sutau strategi penyelidikan  yaitu dengan melakukan suatu audit lingkungan, penginventarisasian tempat, emisi dan prioses serta mengungkapkan data yang menyatakan metode perbaikan

-          Merupakan cara yang paling efektif jika kita menyusun suatu visi lingkungan berdampingan dengan suatu audit tentang realitas saat ini dengan mengklarifikasikan apa yang penting bagi anda

-          Penurunan Implikasi jangka panjang suatu dilemma antara penahanan dan penyelidikan

-          Suatu oranisasi yang menyelidiki secara bertahap belajar cukup banyak untuk mempengaruhi organisasi lain disekitarnya sehingga organisasi tersebut mendapatkan kredibilitasnya, kemampuan dan kesediaan untuk mempengaruhi otoritas lingkungan, membantu perusahaan lain dalam menetapkan arah tujuan mereka

-          Adanya pelatihan sebagai pembelajaran yaitu sebuah unsure utama dalam perubahan budaya

Adanya penciptaan budaya suatu organisasi pembelajaran, perlu bertindak secara otonom dan memberikan respon lebih cepat terhadap perubahan yang terjadi, inovasi, perencanaan pasar, penjadwalan kerja, desain arus kerja dalam tingkat organisasi dan mengambil keputusan dengan cepat

Pelatihan mempunyai arti penting dalam dua hal

  1. Menggunakan pelatihan untuk mengkomunikasikan mengapa dan bagaimana organisasi berubah, itu memberikan poin-poin yang berharga pada tindakan yang telah diambil secara tidak formal
  2. Sebagian besar orang masih menganggap perubahan budaya sebagai sesuatu yang telah dihasilkan secara eksternal bagi mereka

-          Desain tempat kerja sebagai lingkungan fisik dari suatu organisasi pembelajaran

Desain suatu gedung organisasi merupakan suatu contributor penting bagi nilai dan hubungannya

-          Membangun kepemimpinan sebagai suatu katalis perubahan dalam perusahaan atau organisasi, bagaimana cara menangani konflik dan perebutan kekuasaan, cara menavigasi transisi , menyusun perencanaan untuk kebutuhan modal jagka panjang, dan cara merencanakan suatu strategi suksesi yang mencakup visi. Tanpa dukungan kepemimpinan formal kemungkinan akan perubahan sistemetis akan terhalani

-          Menciptakan suatu media pembelajaran misalnya surat kabar agar orang-orang dapat memperoleh informasi , belajar tentang berpikir system

-          Memerlukan komitmen untuk menjadi suatu organisasi pembelajaran, Jangan pesimis dan skeptic terhadap perubahan

-          Adanya dukungan dan peningkatan kolaborasi dalam suatu system

-          Memampukan setiap orang untuk berpartisipasi agar dapat mendorong unit-unit individu untuk unggul dengan mengorbankan system secara keseluruhan

-          Menciptakan suatu lingkngan pembelajaran.

KESIMPULAN

Komitmen dari suatu lembaga dan budaya terhadap prinsip ini merupakan bagian penting dari Organisasi Pembelajar, karena ini adalah kesatuan untuk menerima fakta bahwa masa mendatang dan struktur organisasi itu sendiri adalah tetap akan terus berubah. Pihak manajemen dan para pegawai harus merasa senang untuk bertindak dalam berbagai kemungkinan yang sulit.

DAFTAR PUSTAKA

Peter Senge.   2002.   Disiplin Kelima (The Fifth Discipline Fieldbook).  Interaksara.

Prawiradilaga, Dewi Salma.  2004.  Mozaik Teknologi Pendidikan.  UNJ.  Jakarta.

http://goblokspot.blogspot.com/2005/12/learning-organization.html

TUGAS MAKALAH PROGRAM

COMPUTER BASED TRAINING (CBT)

Oleh :

Susana Ekawati  0823011120

Rubaithy              0823011058

KELAS B

PROGRAM PASCASARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2009

ANALISIS KEBUTUHAN

Kondisi Riil

Kondisi Ideal

Kesenjangan

Nilai Kesenjangan

Besar

Penting

1. Guru dalam Pembelajaran tidak mengawali dengan pretest.

2.  Dalam proses pembelajaran pendekatan guru masih bersifat konvensional.

3. Dalam pembelajaran guru belum menggunakan alat peraga/ Media pembelajaran

4. Dalam pembelajaran masih didominasi oleh guru (siswa belum berperan aktif)

5. Guru cenderung textbook  dalam melaksanakan pembelajaran.

6. Di akhir pembelajaran guru belum mengadakan posttest.

7. Materi pembelajaran masih bersifat abstrak

1.  Guru dalam pembelajaran mengawali dengan pretest.

2. Dalam proses pembelajaran pendekatan guru menggunakan berbagai metode pembelajaran

3. Dalam pembelajaran guru menggunakan alat peraga/media pembelajaran

4. Dalam pembelajaran siswa lebih berperan aktif dan tidak hanya didominasi guru.

5. Dalam pembelajaran guru menggunakan berbagai sumber.

6. Di akhr pembelajaran diadakan posttest.

7. materi pembelajaran lebih kongkret, memberi apklikasi ke siswa

1.  Diharapkan dalam mengawali pembelajaran dengan pretest

2. Diharapkan dalam proses pembelajaran guru menggunakan berbagai metode pembelajaran

3. Diharapkan dalam pembelajaran guru menggunakan alat peraga/media pembelajaran

4. Diharapkan dalam pembelajaran siswa lebih berperan aktif tidak hanya didominasi oleh guru.

5. Diharapkan dalam pembelajaran guru menggunakan berbagai sumber.

6. Diharapkan di akhir pembelajaran dilakukan posttest.

7. Diharapkan materi pembelajaran lebih kongkret, bisa dipahami siswa

Ya, alasan:

1. Dari belum mengawali pembelajaran dengan pretest, menjadi pembelajaran diawali dengan pretest.

Ya, alasan:

2. Dari pembelajaran konvensional, menjadi menggunakan berbagai metode pembelajaran.

Ya, alasan :

3. Dari belum menggunakan alat peraga/media pembelajaran, menjadi menggunakan alat peraga/media pembelajaran

Ya, alasan:

4. Dari didominasi oleh guru, menjadi siswa lebih berperan aktif.

Ya, alasan:

5. Dari cenderung textbook, menjadi menggunakan berbagai sumber.

Ya, alasan:

6. Dari belum menjadi mengadakan posttest di akhir pembelajaran.

Ya, alasan :

7. Dari abstrak menjadi lebih kongkret

Ya, alasan:

1. Jika mengawali pembelajaran dengan pretest,  dapat diketahui kemampuan awal siswa sebelum pembelajaran.

Ya, alasan:

2. Jika menggunakan berbagai metode pembelajaran, dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Ya, alasan:

3. Jika menggunakan alat peraga/media pembelajaran, dapat meningkatkan motivasi danhasil belajar siswa.

Ya, alasan:

4. Jika siswa lebih berperan aktif, dapat meningkatkan keberanian siswa.

Ya, alasan:

5. Jika menggunakan berbagai sumber dalam pembelajaran, dapat menambah pengetahuan siswa.

Ya, alasan:

6. Jika di akhir pembelajaran diadakan posttest, dapat mengetahui pemahaman siswa terhadap materi tersebut.

Ya, alasan :

7. Jika menjayikan materi kongkret dapat meningkatkan pemahaman siswa

Berdasarkan analisis kebutuhan diatas didapatlah permasalahan bahwa selama pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) :

1. Pembelajaran masih bersifat konvensional, guru masih berperan utama dalam pembelajaran

2. Belum digunakan media pembelajaran, masih textbook sehingga pembelajaran menjadi menjenuhkan

3. Materi pembelajaran masih bersifat abstrak seperti pada dasar-dasar sistem jaringan sehingga siswa kesulitan dalam pemahaman

4. Belum banyak digunakan soal-soal latihan untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran

Dari permasalah tersebut maka dibuatlah  pemecahan / solusi  masalah dalam pembelajaran TIK tersebut, yaitu :

Dibuatlah sebuah media pembelajaran berupa CAI yang berisi tentang materi pembelajaran yang abstrak sehingga bisa menjadi lebih kongkret dan bisa diakses dengan mudah oleh masing-masing siswa (student oriented) disertai dengan latihan-latihan dan adanya tes akhir. Pada kali ini akan dikembangkan materi pembelajaran mengenai dasar-dasar sistem jaringan

Langkah-langkah penulisan frame pembelajaran dasar-dasar sistem jaringan :

1. Mengidentifikasi sasaran yang akan menggunakan program multimedia tersebut

Sasaran pengguna program multimedia ini adalah siswa-siswi SMP Kelas IX pada materi pembelajaran dasar-dasar sistem jaringan dikarenakan pada materi ini cukup abstrak sehingga perlu dituangkan ke dalam program multimedia ini. Karakteristik siswa yaitu sudah mengenal perangkat-perangkat komputer baik perangkat lunak dan keras, bagaimana mengoperasikan sebuah program/sofware pembelajaran, mengerti pengertian dasar tentang internet

2. Mengembangkan atau mendeskripsikan tujuan pembelajaran dengan jelas

Adapun tujuan pembelajaran dari program multimedia ini adalah

Tujuan Pembelajaran Umum/KD :

Menjelaskan Dasar-dasar Sistem Jaringan

Tujuan Pembelajaran khusus :

  • Siswa dapat menjelaskan pengertian jaringan
  • Siswa dapat menjelaskan manfaat jaringan
  • Siswa dapat menyebutkan perangkat jaringan komputer
  • Siswa dapat menjelaskan tentang jaringan workgroup
  • Siswa dapat menjelaskan tipe jaringan LAN
  • Siswa dapat menjelaskan tipe jaringan WAN

3. Menyiapkan materi yang relevan dengan apa yang ditulis

Materi yang didapatkan berhubungan dengan Tujuan pembelajaran Umum dan khusus, didapat dari beberapa sumber belajar yaitu buku pelajaran TIK SMP Kelas IX, internet dan sebagainya

4. Identifikasi materi yang sudah terkumpul untuk diseleksi mana yang cocok dengan teks, gambar, foto, audio, animasi dan video

5. Tentukan navigasi untuk program yang akan dibuat

6.   Membuat flowchart sesuai alur materi

7.   Melakukan penulisan naskah program multimedia dengan teliti

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM CAI

Mata Pelajaran             :   TIK SMP Kelas IX

Topik                                       :   Dasar-dasar sistem Jaringan

Deskripsi singkat                     :  Topik ini membahas tentang dasar-dasarr sistem jaringan meliputi pengertian, manfaat, perangkat dan tipe jaringan

Tujuan Instruksional Umum   : Setelah program ini siswa dapat menjelaskan tentang dasar-dasar sistem jaringan

NO Tujuan Instruksional khusus Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Strategi Estimasi waktu
1 menjelaskan pengertian jaringan Jaringan Defenisi jaringan Teks

Gambar

2 menit
2 menjelaskan manfaat jaringan Jaringan Manfaat jaringan Teks

Gambar

2 menit
3 menyebutkan perangkat jaringan komputer Perangkat Jaringan Perangkat jaringan lunak dan keras Teks

Gambar

Tidak dibatasi
4 menjelaskan tentang jaringan workgroup Tipe jaringan Tipe jaringan Workgroup Teks

Gambar

Animasi

Tidak dibatasi
5 menjelaskan tipe jaringan LAN Tipe jaringan Tipe jaringan LAN Teks

Gambar

Animasi

Tidak dibatasi
6 menjelaskan tipe jaringan WAN Tipe jaringan Tipe jaringan WAN Teks

gambar

animasi

Tidak dibatasi

EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) IPA DI KABUPATEN WAY KANAN

OLEH  :

ABRAR AZKA                08230110

ERIA APRIYANI           08230110

RUBAITHY                     08230110

SUSANA EKAWATI      0823011120

PROGRAM PASCA SARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS PENDIDIKAN DAN ILMU PENGETAHUAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

TAHUN 2009

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Memasuki kerjasama ekonomi Negara-negara Asia Tenggara melalui Kawasan Perdagangan Bebas Asean (Asean Free Trade Area/AFTA) sejak tahun 2003 dan pasar bebas dunia tahun 2020 akan menimbulkan persaingan ketat baik barang jadi/komoditas maupun jasa. Menyongsong millenium ketiga ini, bangsa Indonesia telah menentukan pilihan untuk berlari bersaing dengan negara-negara maju di dunia untuk memenangkan pertarungan di abad ilmu pengetahuan ini khususnya dalam penyiapan Sumber Daya Manusianya. Hal ini ditandai dengan terbitnya perangkat hukum dalam tata kelola pemerintahan NKRI di bidang pendidikan, yaitu Undang-undang Nomor 32 Tahun 2003, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005, beserta peraturan perundangan yang mengikutinya. Berangkat dari perangkat hukum tersebut reformasi pendidikan di Indonesia digulirkan dan diperjuangkan untuk mewujudkan mutu lulusan pendidikan sebagai modal dasar untuk membangun bangsa dan negara Republik Indonesia dalam rangka memenangkan persaingan dengan negara-negara maju di dunia.

Kebijakan dan program pembangunan mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kebijakan mutu pendidik dan tenaga kependidikan (PTK). Jadi, sudah menjadi keharusan bahwa pendidik/guru wajib memperbarui dan meningkatkan kualitas kependidikannya untuk mempertinggi taraf keprofesionalannya,  termasuk di dalamnya adalah tenaga pendidik IPA di Kabupaten Way Kanan. Untuk mencapai tujuan meningkatkan mutu Pendidik dalam bidang IPA, maka pendidik harus banyak membaca, mengikuti forum ilmiah, seminar, pelatihan dan tak kalah pentingnya mengikuti penataran bidang studi yang dibinanya, salah satunya dengan mengikuti kegiatan MGMP bidang studi IPA. Kebijakan dan program MGMP dibangun dan dilaksanakan sesuai dengan koridor sistem pembangunan pendidikan nasional di Indonesia. MGMP sebagai wadah tempat proses belajar dan kerjasama antarguru dalam rangka untuk meningkatkan keprofesionalannya Selain itu juga sebagai suatu wadah asosiasi dan juga sarana untuk saling komunikasi, bertukar pikiran dalam rangka meningkatkan kinerja guru sebagai praktisi/pelaku perubahan reorientasi pembelajaran di kelas (Depdiknas, 2004:1).

Ada beberapa alasan dilaksanakannya kegiatan MGMP sebagai sarana untuk meningkatkan kamampuan guru. Pertama, adanya kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa penampilan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sangat bervariasi dan kualifikasi keguruannya beraneka ragam. Kedua, kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan  dan teknologi menuntut adanya pnyesuaian dan pengembangan pendidikan di sekolah. Ketiga, pengaturan mengenai angka kredit bagi jabatan fungsional guru khusunya menuntut kemampuan guru untuk meningkatkan profesionalisme berkerya dan berprestasi di dalam melaksanakan tugas sehari-hari di sekolah. Keempat, keadaan geografis Indonesia menuntut suatu sistem komunikasi dan pembinaan profesionalisme guru yang multimedia. Kelima, peningkatan kemampuan profesional guru menuntut adanya wadah anatara lain untuk berkomunikasi, konsultasi, saling memberikan informasi dan koordinasi sesama guru, usaha peningkatan kemampuan pendalaman materi, penguasan sumber/media belajar dan teknik evaluasi.

Jadi, program-program MGMP dibangun dengan berangkat dari alasan tersebut serta rencana strategis dan program tahunan yang secara bertahap dan berjenjang berusaha untuk meningkatkan mutu Pendidik IPA melalui berbagai Kegiatan Pertemuan, diklat berjenjang dan program pengimbasan bagi seluruh Pendidik IPA di Indonesia secara berkelanjutan dengan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota dan instansi terkait. Kebijakan dan program MGMP IPA ini kiranya dapat menjadi acuan dalam membangun mutu pendidikan IPA di Indonesia khususnya di Kabupaten Way Kanan. Dengan semangat kebersamaan antara berbagai unit terkait baik ditingkat pusat maupun daerah dan upaya kerja keras serta komitmen untuk membangun mutu pendidikan IPA, maka tujuan peningkatan mutu pendidikan IPA Insyaallah dapat diwujudkan.

Ada beberapa kebijakan strategis/program  dalam MGMP IPA yang difokuskan untuk mendukung keberhasilan implementasi pemerataan dan perluasaan akses pendidikan; peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing; serta penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik pendidikan dalam kerangka pencapaian insan Indonesia cerdas dan kompetitif. Kebijakan strategis/program yang dimaksud merupakan kebijakan-kebijakan MGMP IPA yang mencakup pengembangan strategi dan metode-metode inovatif dalam meningkatkan kompetensi Pendidik IPA, penyelenggaraan forum-forum ilmiah, pagelaran Porseni dan sebagainya guna meningkatkan kompetensi IPA dalam hal kompetensi sosial serta kompetensi personal; analisis hasil akreditasi sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan; pemberdayaan asosiasi profesi dan himpunan-himpunan guru IPA sebagai wahana penggerak kesadaran dan aksi self-continuous improvement mutu pendidik; pemberdayaan pendidik dalam melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); pengadaan fasilitas dan pemberian dorongan guna terwujudnya kompetensi guru IPA dalam hal Penulisan Karya Ilmiah; pengembangan inovasi model-model penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu trademark, seperti PAKEM, Lesson Study, Capacity Building yang menjadi prioritas karena fungsinya yang strategis untuk menjamin peningkatan mutu pendidikan; pemanfaatan dan pengembangan ICT sebagai media pembelajaran; penjaminan mutu pendidik secara terprogram dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP); fasilitasi pengembangan pembelajaran sains menuju sekolah berbasis keunggulan lokal, standar nasional dan standar internasional; peningkatan koordinasi dengan instansi terkait dalam peningkatan mutu Pendidik IPA,

Pada kenyataannya, masih banyak para guru / pendidik yang belum ikut berpartisipasi dalam kegiatan MGMP, belum banyaknya komunikasi yang terjalin diantara sesama guru dalam hal memecahkan masalah yang dihadapi saat pembelajaran,  belum semua sekolah menggalakkan kegiatan MGMP tingkat sekolah, belum banyak kegiatan/ program-program yang dilakukan, kebanyakan guru peserta MGMP mengganggap bahwa MGMP sebagai tempat untuk sekedar bertemu kangen antarteman guru. Padahal banyak hal yang harus dikerjakan guru dalam kegiatan MGMP seperti menyiapkan perangkat pembelajaran dan sebagainya.

Program MGMP di Kabupaten Way Kanan sampai saat ini belum pernah dilakukan evaluasi. Evaluasi yang dilakukan sampai saat ini baru dari aspek menilai hasil belajar peserta didik yang berupa EBTA, Uji Kompetensi, EBTANAS, UAN/UN, akan tetapi evaluasi program secara keseluruhan belum pernah dilakukan meliputi banyaknya pertemuan, interaksi guru, sumber belajar dan hal-hal lainnya. Dari permasalahan tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian secara mendalam berupa evaluasi program kegiatan pelaksanaan MGMP IPA di Kabupaten Way Kanan

1.2. Identifikasi Masalah

Memperhatikan permasalahan  sebagaimana yang telah diketengahkan pada bagian latar belakang di atas, maka identifikasi masalah yang menjadi fokus penelitian ini adalah: bagaimana pelaksanaan kegiatan MGMP dalam pembelajaran IPA di Kabupaten Way Kanan?

Adapun indikator dari fokus permasalahan tersebut adalah :

a.   Pelaksanaan kegiatan Musyawarah Guru mata pelajaran masih sangat jarang dilakukan

b.   Intensitas pertemuan dan bentuk pertemuan MGMP IPA tingkat SMP di Kabupaten Way Kanan

c.   Materi yang diperoleh dari hasil pelaksanaan kegiatan MGMP IPA tingkat SMP se- Way Kanan

d.   Interaksi guru dalam penguasaan konsep dasar meteri pembelajaran melalui MGMP IPA se- Way Kanan

e.   Persiapan guru dalam perencanaan  persiapan pembelajaran dan proses belajar mengajar melalui MGMP IPA

f.    Kegiatan-kegiatan yang diadakan MGMP IPA di Kabupaten Way Kanan untuk meningkatkan mutu profesionalisme guru

g.   Pemanfaatan sumber dan media pembelajaran dalam pembelajaran IPA melalui MGMP IPA di Kabupaten Way Kanan

h. Keberadaan MGMP belum tersosialisasi dengan baik dan belum banyak guru-guru yang ikut berpartisipasi

i.    Pelaksanaan kegiatan MGMP belum mendapat dukungan yang nyata dari para pemangku kepentingan

j.    Letak geograpis sekolah yang sangat berjauhan

k.   Pertemuannya belum maksimal karena keterbatasan nara sumber atau fasilitator yang ada

l.    Kemampuan guru dalam satu sub rayon rata – rata hampir sama

1.3. Pembatasan Masalah

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif berupa deskripsi evaluatif yang bersifat kasus.  MGMP IPA merupakan suatu organisasi yang menaungi atau sebagai tempat berkumpulnya guru-guru mata pelajaran IPA yang saling bekerja sama untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran IPA. Sebagai program yang baru berkembang, belum banyak referensi atau laporan hasil evaluasi yang telah mencoba untuk melihat efektifitas program tersebut. Oleh karena itu agar penelitian ini tidak mengalami perbedaan yang luas, maka perlu untuk membatasi diri. Batasan masalah dalam penelitian ini hanya akan mengkaji Bagaimana pelaksanaan kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran dalam pembelajaran IPA di Kabupaten Way Kanan meliputi interaksi dalam perencanaan persiapan pembelajaran

1.4. Perumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang dan pembatasan masalah diatas , maka masalah penelitian ini menitik beratkan pada evaluasi pelaksanaan program yaitu bagaimanakah efektivitas pelaksanaan Kegiatan MGMP meliputi jenis kegiatan yang telah dilakukan, bentuk dan banyaknya pertemuan, interaksi antarsesama guru, susunan organisasi, pembiayaan, sarana prasarana dan lainnya.

1.5. Tujuan Penelitian

Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan dan menganalisis serta mengevaluasi kegiatan dan model interaksi dalam musyawarah guru mata pelajaran IPA di Kabupaten Way Kanan meliputi intensitas pertemuan, tingkat penguasaan konsep dasar terhadap materi pembelajaran, pemanfaatan sumber dan media pembelajaran, perencanaan persiapan pembelajaran serta kendala-kendala yang ditemui dalam pelaksanaan kegiatan MGMP IPA

1.6. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini yaitu sebagai bahan masukan dalam rangka pembinaan kemampuan guru dalam berkomunikasi dan melaksanakan pembelajaran serta menambah wawasan bagi pihak terkait, sebagai bahan intropeksi dalam pembinaan kemampuan profesional guru selanjutnya

1.7. Ruang Lingkup

Penelitian ini merupakan upaya pengembangan Ilmu teknologi Pendidikan kawasan pemanfaatan dan evaluasi, yaitu pemanfaatan forum MGMP dalam proses belajar dan bagaimana pelaksanaannya selama ini. Secara rinci ruang lingkup penelitian ini yaitu Intensitas dan bentuk pertemuan, penguasaan konsep dasar, pemanfaatan sumber dan media pembelajaran, peencanaan persiapan pembelajaran dan kendala yang ditemui dalam pelaksanaan kegiatan

BAB  II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Evaluasi

Istilah penilaian biasanya berhubungan dengan pencapaian siswa atas standar yang ditentukan oleh kurikulum, sedangkan istilah evaluasi dapat diterapkan untuk menyatakan penilaian pada bidang lain. Berbagai macam evaluasi telah dikenal dalam bidang kajian ilmu. Salah satunya adalah evaluasi program yang banyak digunakan dalam kajian kependidikan. Evaluasi program mengalami perkembangan yang berarti sejak Ralph Tyler, Scriven, John B. Owen, Lee Cronbach, Daniel Stufflebeam, Marvin Alkin, Malcolm Provus, R. Brinkerhoff dan lainnya. Banyaknya kajian evaluasi program yang membawa implikasi semakin banyaknya model evaluasi yang berbeda cara dan penyajiannya, namun jika ditelusuri semua model bermuara kepada satu tujuan yang sama yaitu menyediakan informasi dalam kerangka “decision” atau keputusan bagi pengambil kebijakan.

Terdapat beberapa definisi tentang evaluasi yang dikemukan oleh pakar, diantaranya: (Kufman and Thomas, 1980:4) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses yang digunakan untuk menilai. Hal senada dikemukakan oleh (Djaali, Mulyono dan Ramly, 2000:3) mendefinisikan evaluasi dapat diartikan sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau standar objektif yang dievaluasi. Selanjutnya (Sanders, 1994:3) sebagai ketua The Joint Committee on Standars for Educational Evaluation mendefinisikan evaluasi sebagai kegiatan investigasi yang sistimatis tentang kebenaran atau keberhasilan suatu tujuan. Evaluasi program menurut Joint Commite yang dikutip oleh (Brinkerhof, 1986:xv)f adalah aktivitas investigasi yang sistematis tentang sesuatu yang berharga dan bernilai dari suatu obyek. Pendapat lain (Denzin and Lincoln, 2000:983) mengatakan bahwa evaluasi program berorientasi sekitar perhatian dari penentu kebijakan dari penyandang dana secara karakteristik memasukkan pertanyaan penyebab tentang tingkat terhadap mana program telah mencapai tujuan yang diinginkan. Selanjutnya menurut (McNamara, 2008:3) mengatakan evaluasi program mengumpulkan informasi tentang suatu program atau beberapa aspek dari suatu program guna membuat keputusan penting tentang program tersebut. Keputusan-keputusan yang diambil dijadikan sebagai indikator-indikator penilaian kinerja atau assessment performance pada setiap tahapan evaluasi dalam tiga kategori yaitu rendah, moderat dan tinggi (Issac and Michael, 1982:22).

Berangkat dari pengertian di atas maka evaluasi program merupakan suatu proses. Secara eksplisit evaluasi mengacu pada pencapaian tujuan sedangkan secara implisit evaluasi harus membandingkan apa yang telah dicapai dari program dengan apa yang seharusnya dicapai berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Dalam konteks pelaksanaAn program, kriteria yang dimaksud adalah kriteria keberhasilan pelaksanaan dan hal yang dinilai adalah hasil atau prosesnya itu sendiri dalam rangka pengambilan keputusan. Evaluasi dapat digunakan untuk memeriksa tingkat keberhasilan program berkaitan dengan lingkungan program dengan suatu “judgement” apakah program diteruskan, ditunda, ditingkatkan, dikembangkan, diterima atau ditolak.

2.2. Organisasi MGMP IPA

Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara adekuat dalam kehidupan masyarakat. (Hamalik, 2004:79). Sedangkan menurut pasal 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selain itu (Dewey, 2002:1) mengatakan bahwa pendidikan merupakan pengembangan diri dalam kodrat manusia. Ahli lain (Soedijarto, 1998:91) mengatakan pendidikan adalah suatu usaha manusia yang penting untuk memelihara, mempertahankan, dan mengembangkan masyarakat.

MGMP IPA merupakan suatu organisasi yang dibentuk sebagai jawaban terhadap pemecahan masalah dalam pembelajaran IPA. MGMP IPA juga sebagai tempat berkumpulnya guru-guru mata pelajaran IPA yang saling berkerja sama, berinteraksi, bertukar informasi dalam permasalahan pembelajaran IPA yang dihadapi di sekolah masing-masing dalam usaha meningkatkan kemampuan profesional guru di bawah bimbingan guru inti dan bersifat mandiri (Kepmen Dikbud No. 025/0/1995). Lahirnya MGMP ini sebagai akibat dari kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa penampilan guru dalam melaksanakan proses  pembelajaran sangat bervariasi dan kualifikasi keguruannya beraneka ragam, sehingga dengan adanya wadah MGMP, ara guru dapat menyamakan persepsi dan memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi di tempat mengajar masing-masing.

Dalam wadah MGMP IPA tersebut terjadi interaksi antara guru IPA satu dengan lainnya atau dengan kelompok sehingga terjalinlah komunikasi interpersonal yang efektif sebagai salah satu dasar untuk berhasilnya suatu organisasi dan dalam menyelesaikan permasalahan yang ditemui dalam proses pembelajaran. Karena itu, perlu bagi seorang pimpinan (guru inti/instruktur untuk mengetahui konsep dasar dalam berkomunikasi agar dapat membantu dalam mengelola organisasi dengan efektif. Oleh karena itu interaksi profesional  yang ada perlu didukung oleh iklim lingkungan yang sehat dan harmonis supaya tercipta komunikasi yang efektif antara sesama guru ataupun dengan instruktur/guru inti.

Komunikasi Interpersonal adalah proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan seseorang lainnya atau biasanya di antara dua orang ang dapat langsung diketahui kebalikannya. Dengan bertambahnya orang yang terlibat dalam komunikasi, menjadi bertambahlah persepsi orang dalam kejadian komunikasii sehingga bertambah kompleks komunikasi tersebut (Muhammad, 1989 : 158). Sedangkan menurut Miller dan Steinberg, yang dikutip oleh margono (1997 :4) menyatakan komunikasi interpersonal merupakan bentuk komunikasi dua arah yang khas, yang bercirikan perkembangan dari aturan-aturan yang bernegoisasi secara personal, meningkatkan pertukaran informasi dan meningkatkan level pengetahuan.

Prinsip-prinsip kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran yang tercantum dalam Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan MGMP yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Jakarta (1993:6) adalah :

1.         Prinsip Musyawarah

MGMP merupakan wadah kegiatan guru mata pelajaran sejenis yang secara bersama-sama memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas sebagai pengajar mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dimana setiap anggota mempunyai kedudukan, peran dan kesempatan yang sama

2.   Prinsip dari guru, oleh guru dan untuk guru

Keterlibatan guru dalam kegiatan MGMP sangat diperlukan terutama dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh guru melalui diskusi kelompok, tukar menukar pengalaman dan hasilnya dapat dijadikan pedoman pelaksanaan pembelajaran. Oleh karena itu sangat dibutuhkan patisipasi aktif dari semua anggota tanpa terkecuali

3.   Prinsip Mandiri

Pada dasarnya kegiatan MGMP dibentuk atas kebutuhan profesional guru untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam melaksanakan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1986 : 14) juga mengemukakan urutan kegiatan yang harus dilakukan dalam kegiatan MGMP sebagai berikut :

a. Pendalaman Materi

b. Menyusun program tahunan

c. Menyusun program semester

d. Menyusun persiapan mengajar

e. Menyusun alat penilaian

f. Menentukan alat peraga dan media belajar yang sesuai

g. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar

h. Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan program yang telah ditetapkan

i. Mengadakan perbaikan terhadap pelaksanaan program yang telah dilaksanakan

j. Melakukan analisis hasil belajar

Ada beberapa alasan dilaksanakannya kegiatan MGMP sebagai sarana untuk meningkatkan kamampuan guru. Pertama, adanya kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa penampilan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sangat bervariasi dan kualifikasi keguruannya beraneka ragam. Kedua, kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan  dan teknologi menuntut adanya pnyesuaian dan pengembangan pendidikan di sekolah. Ketiga, pengaturan mengenai angka kredit bagi jabatan fungsional guru khusunya menuntut kemampuan guru untuk meningkatkan profesionalisme berkerya dan berprestasi di dalam melaksanakan tugas sehari-hari di sekolah. Keempat, keadaan geografis Indonesia menuntut suatu sistem komunikasi dan pembinaan profesionalisme guru yang multimedia. Kelima, peningkatan kemampuan profesional guru menuntut adanya wadah anatara lain untuk berkomunikasi, konsultasi, saling memberikan informasi dan koordinasi sesama guru, usaha peningkatan kemampuan pendalaman materi, penguasan sumber/media belajar dan teknik evaluasi

Oleh sebab itu, materi yang perlu dibahas dan dikaji bersama adalah yang selalu berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah atau sering disebut perangkat pembelajaran yang diperlukan atau disiapkan oleh seorang guru atau pendidik. Satu hal yang terpenting yang harus dikuasi guru adalah pemahaman terhadap kurikulum yang harus dituangkan ke dalam Analisis Materi  Pelajaran (AMP). Yang kemudian akan dijabarkan ke dalam program tahunan dan program semester.

STRUKTUR ORGANISASI MGMP IPA

KABUPATEN WAY KANAN

PERIODE 2007 –  2010

Ketua                                                  : Erwansyah, S.Pd

Nara sumber                                        :  Nara sumber/Instruktur dari LPMP Provinsi Lampung

Tim Pengembang KTSP Kab. Waykanan.

Bendahara                                           :  Rina, S.Pd

Sekretaris                                             :  Sundari, S.Pd

Bidang Bina Program               :  Tri Widodo, S.Pd

Bidang Pengembangan Substansi        :  Baroto, S.Pd

Bidang Pelaporan dan Publikasi          :  Setiawan, S.Pd

Anggota                                               :

NO

NAMA

ASAL SEKOLAH

1

ALIZABET SUTIAH , S.Pd SMPN 2 BAHUGA

2

MUHAMAD SOLEHAN , S.Ag SMPN 1 BAHUGA

3

MURTINI SMPN 2 WAY TUBA

4

MUNTAMAH . D.R , S. Pd SMPN 2 BUAY BAHUGA

5

M. MUJIRI, S. Ag SMPN SATU ATAP

6

ALI HUSIN SMPN 1 PAKUAN RATU

7

DWI CAHYNO , S. Pd SMPN 4 NEGARA BATIN

8

MASRIANI SMPN 1 BARADATU

9

AMBAR WATI, S. Pd SMPN

10

DARYANA, S. P SMPN2 BANJIT

11

DARLENA EN, S. Pd SMPN 1 GUNUNG LABUHAN

12

UMI ERNA , S. Pd SMPN 1 Bl Umpu

13

LISWA MITRA WATI, S. Pd SMPN 2 NEGERI AGUNG

14

WALONO SMP MUHAMMADIYAH

15

IDA BAGUS SUTA SANJAYA SMPN 3 BARADATU

16

SUBAGIYO, S. Pd SMPN 5 NEGERI AGUNG

17

SUPRIYADI SMPN 2 BUMI AGUNG

18

SARDIONO SMP  MAKARTI TAMA

19

BAMBANG SUROTO SMPN 4 Bl Umpu

20

TRI HARTOYO SMPN 1 Bl Umpu

21

GUSTI MADE ADI SMPN 3 KASUI

22

ERVINA YULIANTI SMPN 1 Negeri Agung

23

AL. SISWIDIANTO UTOMO SMPN 3 KASUI

24

APRIYANTI SMPN 1 Rebang Tangkas

25

SUYATI . S. Pd SMPN 3 BARADATU

26

RATNA AGUSTINI, S.Pd SMPN 1 KASUI

27

MAYSAROH SMPN 2 Gn LABUHAN

28

Drs. KATMAN SMPN 1 BANJIT

29

Drs. WAHIDI SMPN 2 Bl Umpu

30

JUMARNI, S. Pd SMPN 2 NEGERI BATIN

31

TRI SADRTI SMP 17 BARADATU

32

Dra. ROSNITA WINARNI SMPN 2 NEGERI BESAR

33

BAMBANG TRINARWANTO SMPN 2 NEGERI BATIN

34

SLAMET SMPN 2 BARADTU

35

Dra. INTANIAH SMPN 2 KASUI

36

MALIK, A. Pd SMPN 2 REBANG TANGKAS

37

ANA HERDIANA, S. Pd SMPN 1 WAY TUBA

38

SUGANDA S. Pd SMPN 2 BAHUGA

39

SUPARDI SMPN 1 NEGERI BATIN

40

MURTINI SMPN 2 Way Tuba

41

SRI YANA SMPN 1 BUAY BAHUGA

42

SUPARJIONO SMPN 1 BUMI AGUNG

43

KOMANG SUGITO SMPN 1 NEGERI BESAR

44

EVI KOMALASARI SMP N 1 BANJIT

45

SUSANA EKAWATI SMPN5 BL. Umpu

RINCIAN PEMBAGIAN TUGAS :

Ketua                     :  1. Menentukan pokok-pokok kebijakan penyelenggaraan organisasi

MGMP

2. Memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan organisasi MGMP

3. Bertanggungjawab atas keberhasilan pelaksanaan pengorganisasian

MGMP.

Wakil ketua           :   1. Membantu tugas-tugas ketua MGMP

2. Melaksanakan tugas ketua, jika ketua berhalangan

3. Bertanggungjawab atas pelaksanaan tugasnya pada ketua MGMP

Sekretaris               :  1. Mengatur dan menyelenggarakan kegiatan rutin bulanan, memberikan

pelayanan administrasi yang diperlukan untuk mendukung pengelolaan

organisasi MGMP.

2. Mengagendakan setiap kegiatan dan membuat laporan kegiatan setiap

akhir semester.

Bendahara             :   1. Melaksanakan pengelolaan dukungan keuangan dalam penyelenggaraan

organisasi MGMP.

2. Mengkoordinir keuangan dari pengadaan buku LKS.

.

Bidang Bina Program:

1.        Merencanakan program kerja MGMP,

2.        Monitoring dan evaluasi serta pendataan

3.        Tindak lanjut program masa depan

Bidang Pengembangan Substansial :

1.   Mengkoordinir kegiatan penyusunan silabus kurikulum dan sisteem pengujian serta penyusunan alternatif strategi pembelajaran efektif.

2.   Mengkoordinir kegiatan sosialisasi hasil workshop, diklat, TOT, seminar, lokakarya dan sejenisnya.

3.   Merencanakan kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan karier guru dan peningkatan wawasan keilmuan peserta didik seperti mengadakan seminar, lomba-lomba mapel/PKS, olipiade dan sejenisnya.

Bidang Publikasi / Pelaporan :

1.   Merencanakan dan melaksanakan hubungan antar organisasi terkait

yang relevan dengan kegiatan yang telah diprogramkan MGMP.

2.  Melaksanakan publikasi program dan hasil kegiatan serta pendistribusiannya ke setiap anggota

3.   Menyiapkan dan menyusun pelaporan hasil kegiatan.

Anggota MGMP : 1.   Mendukung dan melaksanakan semua kegiatan yang telah diprogramkan                             MGMP.

2.   Memanfaatkan hasil kegiatan MGMP dan menggunakannya untuk

menunjang kegiatan pembelajaran di selolah masing-masing.

3.   Berperan aktif dalam setiap kegiatan baik yang bersifat rutin maupun

insidental.

1.Tujuan Umum

Menjadikan MGMP IPA SMP sebagai suatu wadah dalam meningkatkan kompetensi guru IPA yang profesional dalam bidangnya dan berbagi pengalaman.

2.Tujuan Khusus

Tujuan ini dapat dibagi menjadi :

a)      Bagi guru :

1)      Mempunyai kemampuan dalam menetapkan KKM hingga mudah bagi guru untuk menentukan kereteria ketuntasan bagi seorang siswa yang sesuai dengan lingkungan sekolah.

2)      Mempunyai kemampuan dalam membuat silabus yang sesuai dengan lingkungan sekolah hingga PBM berjalan lebih efektif dan bervariasi

3)      Mempunyai kemampuan dalam penyusunan Rencana Pembelajaran yang lebih baik dan sesuai dengan keadaan dan situasi sekolah, sehingga suasana belajar lebih menyenangkan

4)      Mempunyai kemampuan dalam penyusunan alat evaluasi dan dapat menggunakannya dalam memperbaiki metoda pembelajaran selanjutnya.

5)      Mempunyai kemampuan dalam merencanakan program remedial dan pengayaan dari hasil evaluasi yang diadakan.

6)      Mempunyai kemampuan menguasai dan menyesuaikan meteri pelajaran dengan metoda pembelajaran hingga suasana belajar lebih menggairahkan, menyenangkan dan menggembirakan.

7)      Mempunyai kemampuan dalam melakukan PTK dan membuat pelaporannya

b)      Bagi Siswa

1)      Suasana belajar lebih menggembirakan, menyenangkan dan tidak membosankan

2)      Meningkatnya minat siswa terhadap pelajaran.

3)      Meningkatkan hasil pembelajaran yang akhirnya akan meningkatkan mutu lulusan

4)      Meningkatnya mitivasi belajar bagi siswa dengan digunakannya berbagai metoda yang digunakan guru.

c)      Bagi Sekolah

1)      Tersusunnya sebagian kurikulum sekolah berupa silabus, KKM, pemetaan dan RPP.

2)      Meningkatkan motivasi bagi guru mata plajaran lainnya.

3)      Terjalinya hubungan saling membutuhkan antara sesama sekolah.

Secara umum dengan meningkatkan kompetensi guru mata pelajaran IPA SMP se Way Kanan ,Memecahkan masalah-masalah pembelajaran IPA  yang dihadapi melalui saling berbagi pengalaman, sehingga terjadi perubahan prilaku guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas dan praktek dilapangan.

3.         SASARAN

Program MGMP ini melibatkan guru mata pelajaran IPA SMP  yang ada di  14 Kecamatan Kabupaten Way Kanan baik negeri maupun swasta di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan yang terdiri dari 63 orang.

Tabel 1. Sebaran peserta Wokshop MGMP IPA SMP se-Kab.Way Kanan.

No Nama Kecamatan Jumlah Sekolah Jumlah peserta
1. REBANG TANGKAS

3

3

2. KASUI

4

3

3. BANJIT

4

4

4. BARADATU

8

8

5. GUNUNG LABUHAN

4

4

6. BLAMBANGAN UMPU

8

8

7. NEGERI AGUNG

4

4

8. BUAY BAHUGA

2

2

9. BUMI AGUNG

2

2

10. BAHUGA

4

4

11. WAY TUBA

4

4

12. NEGERI BESAR

3

3

13. NEGARA BATIN

4

4

14. PAKUAN RATU

9

9

JUMLAH

63

63

4.         MANFAAT

a. Bagi Siswa tercipta situasi pembelajaran yang bervariasi, kontektual, dan

menyenangkan siswa, sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat.

b. Bagi guru dapat meningkatkan kompetensinya dalam bidang pendidikan,

khususnya dalam bidang IPA

c. Bagi sekolah memiliki guru – guru yang kompeten dan profesional dalam

bidangnya  sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan.

Model Riset Evaluasi

Model evaluasi yang digunakan adalah model stake yang  cendrung komprehensip dan mulai dari proses evaluasi selama tahap perencanaan dari pengembangan program (Kaufman and Susan, 1980:123). Stake mengidentifikasi 3 (tiga) tahap dari evaluasi program pendidikan dan faktor yang mempengaruhinya yaitu:

1. Antecedents phase; sebelum program diimplementasikan: Kondisi/ kejadian apa yang ada sebelum implementasi program? Apakah kondisi/kejadian ini akan mempengaruhi program?

2. Transactions phase; pelaksanaan program: Apakah yang sebenarnya terjadi selama program dilaksanakan? Apakah program yang sedang dilaksanakan itu sesuai dengan rencana program?

3. Outcomes phase, mengetahui akibat emplementasi pada akhir program. Apakah program itu dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan? Apakah klien menunjukkan perilaku pada level yang tinggi dibanding dengan pada saat mereka berada sebelum program dilaksanakan? (Kaufman,1982:123). Setiap tahapan tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu description (deskripsi) dan judgment (penilaian). Model ini akan dapat memberikan gambaran pelaksanaan program secara mendalam dan mendetail. Oleh karena itu persepsi orang-orang yang terlibat dalam program tersebut seperti perilaku guru, peran kepala sekolah, peran dinas, pengawas, anggota organisasi dan manajemennya adalah kenyataan yang harus diperhatikan.

Komponen-komponen Evaluasi Program

Pada kajian teoretis telah diuraikan tentang program kegiatan MGMP IPA yang perlu dievaluasi sejauhmana efektivitasnya. Secara operasional, efektivitas dipahami sebagai suatu kondisi yang menampilkan tingkatan keberhasilan suatu program sesuai standar yang telah ditetapkan (Koontz and Weilrich 1988:8). Efektivitas terjadi pada tiap tingkatan atau level organisasi yaitu tergantung pada sisi mana yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini efektivitas dipandang dari level kelompok Organisasi pada program MGMP IPA.

Untuk mengetahui tingkat efektivitas dilakukan dengan mengukur komponen masukan, proses dan hasil, kemudian dibandingkan dengan standar-standar objektif yang telah ditetapkan baik secara kualitas maupun kuantitas (Issac and Michael, 1982:158). Efektifitas dikategorikan pada tingkatan rendah, moderat dan tinggi (Issac and Michael,1982:22). Berdasarkan permasalahan penelitian dan landasan teori serta diskripsi program, dibangun suatu kerangka acuan yang melibatkan tiga komponen evaluasi model Stake. Ketiga komponen evaluasi tersebut akan diuraikan, sebagai berikut:

1. Komponen Masukan (antecedents)

Evaluasi masukan berisi tentang analisis persoalan yang berhubungan dengan kondisi apa yang ada sebelum program diimplementasikan dan faktor apa yang diperkirakan akan mempengaruhi (Kaufman and Tomas,1980:123). Mengidentifikasi dan menilai kapabilitas sistem, alternatif, strategi, program, desain prosedur untuk strategi implementasi, pembiayaan dan penjadualan (Stufflebeam & Shinkfield, 1986:73). Evaluasi program masukan berorientasi pada suatu program yang dapat dicapai dan apa yang diinginkan, sub-sub komponen yang menjadi fokus dalam mengevaluasi masukan program MGMP IPA terdiri dari: anggota organisasi, sarana dan prasarana, pembiayaan.

2. Komponen Proses (transactions)

Evaluasi proses adalah evaluasi yang dirancang dan diaplikasikan dalam proses praktek atau membimbing dalam implementasi kegiatan. Termasuk mengidentifikasi kerusakan prosedur implementasi baik tata laksana kejadian dan aktivitas (Daniel L. Stufflebeam: 1986.

3. Komponen Hasil (outcomes)

Evaluasi hasil adalah evaluasi yang dilakukan dalam mengukur keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Stufflebeam: 1986) Aktivitas evaluasi hasil adalah upaya mengukur dan menafsirkan atas hasil yang telah dicapai dari suatu program.. Penelitian hasil ini diukur dengan menggunakan dokumen dan wawancara.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Pendekatan dan Model Evaluasi

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan efektivitas program MGMP IPA di Kabupaten Way Kanan yang pada prinsipnya menuju pada perbaikan dan penyempurnaan program. Sebagai penelitian evaluatif yang menggunakan model evaluasi STAKE juga ingin diketahui komponen-komponen apa saja yang mempengaruhi efektivitas program. Secara operasional penelitian evaluasi pada setiap komponen masukan (antecedents), proses (transactions) dan hasil (outcomes) bertujuan yaitu untuk mengetahui efektivitas kegiatan program MGMP IPA Kabupaten Way Kanan.

3.2. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten, Way Kanan. Alasan penentuan ini karena jarang dilakukan evaluasi kegiatan program MGMP IPA. Waktu penelitian dimulai dari bulan April 2009 sampai dengan Juni 2009 . Sedangkan penyusunan laporan dilakukan sejak awal penelitian.

3.3. Metoda dan Desain Evaluasi

1. Metoda Evaluasi

Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian evaluasi dengan menggunakan metode studi kasus (case studies). Studi kasus bertujuan untuk; (1) menghasilkan deskripsi detail dari suatu penomena; (2) mengembangkan penjelasan-penjelasan yang dapat diberikan dari studi kasus itu; dan (3) mengevaluasi fenomenafenomena (D. Gall & P. Gall, 2003:439). Studi kasus sering digunakan untuk menyelidiki unit sosial yang kecil seperti keluarga, klub sekolah dan kelompok remaja atau “gang” (Jacobs, Razavieh, 1999:416-417). Sedangkan Robert Stake mengemukakan, bahwa sebagai suatu bentuk penelitian, studi kasus diartikan dengan perhatian dalam kasus perorangan bukan dengan metode dari inquari yang digunakan (D. Gall & P. Gall, 2003:435). Beberapa referensi menunjukkan bahwa studi kasus merupakan bagian dari penelitian kualitatif. Metode kualitatif dimaksudkan agar dapat diperoleh pemahaman dan penafsiran yang relatif mendalam tentang makna dari fenomena yang ada di lapangan. Menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh (Moleong, 2000:3), menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

2. Desain Evaluasi

Model riset evaluasi yang digunakan yaitu Stake . Model yang dikembangkan oleh Robert E. Steke. Evaluasi model ini terdiri dari tiga tahapan/ pase yaitu; masukan (antecedents), proses (transactions), dan hasil (outcomes).

Tahapan Deskripsi Standar

Setiap tahapan dibagi menjadi dua tahapan yaitu deskripsi (description) dan keputusan/penilaian (judgment), Model Stake ini berorientasi pada pengambilan keputusan (decision oriented) dan teknik pengambilan keputusan aktualitas pada setiap tahap evaluasi atau aspek dengan cara melakukan pengukuran pada setiap fokus evaluasi yang dirangkum dalam matrik yang diadaptasikan dalam caseorder effect matrix (Sabarguna, 2005:27). Berdasarkan teori ini dikembangkan desain penelitian sebagai berikut:

TAHAPAN                          DESKRIPSI                       STANDAR

Rekaman

Kondisi

Objektif

Rekaman

Kondisi

Objektif

Rekaman

Kondisi

Objektif

3.3. Teknik Pengambilan Sampel/informan

Untuk keperluan penelitian ini, pemilihan informan dilakukan secara purposif, yaitu berdasarkan maksud dan tujuan penelitian. Kriteria pemilihan informan antara lain: (1) Kepala sekolah sebagai supervisor yang mempunyai tugas membina para guru, staf dan siswa; (2) Guru IPA sebagai anggota Organisasi MGMP IPA ; (3) Ketua dan Wakil Ketua MGMP IPA sebagai pengurus MGMP IPA (4) Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, maka informan kunci dalam penelitian ini, yaitu 3 orang Kepala Sekolah, 3 orang anggota organisasi MGMP IPA, 1 orang Ketua MGMP IPA dan 1 Orang Penjabat Diknas Setempat.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN  EVALUASI

Hasil penelitian adalah temuan-temuan data lapangan yang mengacu kepada pertanyaan-pertanyaan yang telah peneliti siapkan. Temuan-temuan tersebut berdasarkan data-data yang diperoleh  melalui instrumen penelitian yang telah disiapkan. Data-data yang diperoleh merupakan hasil dari wawancara, observasi dan dokumentasi dengan pengurus, anggota MGMP, Kepala sekolah, Dinas Pendidikan dan penyebaran angket kepada siswa

Berikut ini hasil temuan yang peneliti dapatkan berdasarkan data lapangan tentang Kegiatan Interaksi MGMP IPA Kabupaten Way Kanan

5.1. Deskripsi Hasil penelitian

1.          Musyawarah guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sebagai wadah interaksi

Kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan merupakan hasil dari revitalisasi MGMP secara nasional yang diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2000, tentang program Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang tersebut disebutkan hendaknya MGMP memiliki tujuan baik tujuan umun maupun khusus. Tujuan umum dari kegiatan MGMP menurut Dikdasmen adalah mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan profesionalisme guru. Sedangkan tujuan khusus dari kegiatan MGMP adalah (1)memperluas wawasan dari pengetahuan guru mata pelajaran dalam upaya mewujudkan pembelajaran yang efektif dan efisien, (2) mengembangkan kultur kelas yang kondusif sebagai tempat proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikan dan mencerdaskan siswa, (3) membangun kerja sama dengan masyarakat sebagai mitra guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Dengan terbentuknya Forum komunikasi MGMP IPA di Kabupaten Way Kanan, maka komunikasi antarguru bidang studi akan semakin dekat lagi. Pertemuan MGMP ini dilaksanakan setiap satu kali dalam satu bulan yang dihadiri oleh seluruh anggota dan pengurus untuk membahas isu-isu penting dalam dunia pendidikan dan permaslahan dalam proses pembelajaran. Keanggotaan MGMP IPA bersifat sukarela serta program kegiatannya hanya bersifat simpel dan fleksibel.

Forum MGMP IPA banyak memberikan manfaat dan fungsi bagi guru yang berkaitan dengan persiapan pembelajaran sampai evaluasi. Disini guru akan belajar dan mendapatkan berbagai informasi tentang kurikulum dan berbagai perubahannya, tugas-tugas  guru seperti dalam mengembangkan silabus baik SK maupun KD serta pembuatan RPP bersama, dan pelaksanaan pembelajaran yang efektif.  Kecakapan dan kreativitas guru yang lainnya seperti membuat dan mengembangkan bahan ajar dan media pembelajaran juga dapat dikembangkan di forum MGMP ini.

Hal tersebut menunjukkan bahwa MGMP IPA merupakan sarana yang tepat bagi guru untuk mengembangkan profesi, saling komunikasi, konsultasi, bertukar pengalaman dan mengikuti perkembangan informasi yang uptudate. Dengan mengikuti kegiatan tersebut, dapat meningkatkan kuaitas guru sehingga terwujudnya guru yang profesional. Sebagai ujung tombak terjadinya perubahan dan reorientasi pembelajaran di kelas, guru dituntut memiliki kualitas dan dedikasi yang tinggi, yang pada kahirnya dapat mencetak anak-anak bangsa yang berilmu pengetahuan, berkepribadian dan berakhlak yang mulia

A. Dasar Penyelenggaraan MGMP IPA

Sebagai layaknya berdirinya organisasi, MGMP IPA Kabupaten Way Kanan memiliki landasan kebijakan dalam penyelenggaraannya. Landasan tersebut dijadikan pedoman dan dasar hukum dalam melakukan suatu kegiatan. Adapun dasar dibentuknya organisasi MGMP IPA adalah :

1.   Undang-undang Nomor 2 tahun 1999 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 31 ayat 4 menyebutkan bahwa setiap tenaga kependidikan berkewajiban meningkatkan kemampuan profesional sesuai dengan tuntutan perkembangan imu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan bangsa

2.   Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat 1 menyebutkan tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan

3.   Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 1992 tentang tenaga kependidikan, bab 13 pasal 61 ayat 1 menyebutkan tenaga kependidikan membentuk ikatan profesi sebagai wadah untuk meningkatkan dan atau mengembangkan karier kemampuan kewenangan profesional, martabat, kesejahteraan demi tercapainya tujuan pendidikan secara optimal.

4.   Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan Nomor 420/695/08/2005 tentang pembentukan dan pengangkatan pengurus forum komunikasi MGMP SMP Kabupaten Way Kanan.

Sebagai landasan hukum utama, Sistem Pendidikan Nasional telah memberikan arahan tentang pentingnya organisasi MGMP dalam upaya meningkatkan pembelajaran IPA. Dalam undang-undang tersebut menyebutkan pentingnya upaya peningkatan kualitas tenaga pendidik. Hal tersebut diperkuat dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 1992 bab 13 pasal 61 ayat 1, dalam meningkatkan kualitas tenaga pendidikan dibentuklah suatu wadah ikatan profes, satu diantaranya yaitu melalui program kegiatan MGMP IPA. Sebagai Landasan operasional MGMP IPA adalah keputusan Kepala Dinas Pedidikan Kabupaten Waykanan  tentang pembentukan dan pengangakatan pengurus MGMP IPA sehingga pengurus MGMP IPA memiliki pegangan hukum dalam merencanakan dan melakukan kegiatan.

Dengan berbagai landasan hukum sebgaimana tersebut diatas, MGMP IPA harus dapat mengorganisasikan guru-guru IPA di Kabupaten Way Kanan. Pengurus harus mampu menyusun program yang realistis, komprehensif dan efektif. Guru-guru sangat berharap banyak mendapat manfaat dengan ikut bergabung dan mengikuti setiap kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan ini demi meningkatkan kecerdasan bangsa dengan meningkatan kualitas pendidiknya

B. Tujuan penyelenggaraan MGMP IPA

Sebagai suatu organisasi, MGMP IPA harus memiliki tujuan yang dapat menuntun dan mengarahkan organisasi dalam merencanakan dan melakukan suatu aktivitas. Dengan tujuan tersebut dapat dijadikan acuan penilaian terhadap organisasi tersebut apakah sudah berhasil atau tidak tergantung pada tingkat ketercapaian tujuan.

Adapun tujuan kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan tertera pada tabel diawah ini

NO

TUJUAN

INDIKATOR

1 Meningkatkan kemampuan, keterampilan dalam mempersiapkan dan mengevaluasi proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan keyakinan diri bagi guru 1.1. mampu menyusun program tahunan, program semester, silabus, rencana pembelajaran dan skenario pembelajaran

1.2. mampu mengelola kelas dengan baik

1.3. mampu menerapkan metode yang tepat dalam pembelajaran

1.4. mampu menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses

1.5. mampu mengevaluasi proses pembelajaran dan menindaklanuti hasil evaluasi

2 Meningkatkan kemampuan dan kemahiran guru dalam melaksanakan pembelajaran sehingga dapat menunjang usaha pemerataan dan mutu pendidikan 2.1. mampu mengevaluasi materi pelajaran IPA

2.2. Mampu memiliki materi esensial yang sistematis

3 Mendiskusikan masalah yang dihadapi guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan mencari penyeselesaiannya dengan karaketeristik mata pelajaran IPA, kondisi sekolah dan lingkungan 3.1. mampu memecahkan berbagai permasalahan sehari-hari di sekolah melalui kegiatan MGMP IPA

3.2. mampu menerapkan hasil temuan di MGMP sesuai dengan kondisi seolah masing-masing

3.3. mampu mengikuti perkembangan peristiwa-peristiwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang berkaitan dengan materi pelajaran IPA

4 Membantu guru memperoleh informasi teknik edukatif yang berkaitan dengan keilmuan dan IPTEK, pelaksanaan kurikulum, metodologi, sistem evaluasi mata pelajaran IPA 4.1. mampu mendemonstrasikan teknik mengajar melalui kegiatan peer teaching.

4.2. mampu memanfaatkan penggunaan metode pengajaran dari hasil MGMP

4.3. mampu melaksanakan teknik evaluasi yang sesuai dengan karakter mata pelajaran IPA

5 Saling berbagi informasi dalam menciptakan karya-karya kreatif sesuai dengan perkembangan IPTEK 5.1. mampu menerapkan temuan-temuan model pembelajaran yang inovatif di sekolah masing-masing

5.2. mampu membuat alat peraga yang efektif

5.3. terampil dalam menyajikan alat peraga yang dibuatnya

Apabila dicermati dengan penuh seksama, tujuan yang ditetapkan oleh MGMP IPA telah mengarah pada terwujudnya profil guru yang aktif, kreatif, berwawasan luas dan profesional. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila setiap anggota memahami akan tugas dan tanggung jawabnya serta peduli dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan MGMP. Tujuan tesebut harus dapat menjadi pendorong bagi semua pihak yang teribat dengan kemajuan pendidikan. Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan ikut mendukung dengan memberikan dana yang memadai, bagi kepala sekolah harus menjadi fasilitator dan akomodatif terhadap berbagai kegiatan MGMP, bagi pengurus harus dapat mengorganisir berbagai kegiatan, bagi guru harus bisa proaktif.

C. Pembiayaan Kegiatan MGMP

Kegiatan MGMP IPA yang diselenggrakan di Kabupaten Way Kanan mendapatkan subsidi dan dari pemerintah Kabupaten, melalui dinas pendidikan sebagai dana stimultan dengan jumlah nominalnya Rp.4.000.000,- dalam satu tahun pelajaran. Selain itu juga berasal dari sumbangan/swadana sekolah yang mengikutsertakan gurunya dalam kegiatan MGMP IPA. Sedangkan peserta yang mengikuti kegiatan MGMP IPA mendapat bantuan transportasi dari sekolah masing-masing dengan kesepakatan musyawarah kerja kepala sekolah.

Dana-dana yang dibutuhkan oleh MGMP sebenarnya tidak sedikit apabila MGMP akan melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih berkualitas. Jika MGMP akan melakukan kegiatan pendidikan dan pelatihan selama 3 hari saja dengan jumlah guru sekitar 50 orang, tentu anggaran dana bantuan pemerintah habis sekali kegiatan. Padahal kegiatan-kegiatan itu sangat perlu dilakukan karena akan menambah wawasan dan keterampilan guru IPA. Begitu juga apabila MGMP akan menghadirkan narasumber yang berkompeten maka membutuhkan dana yang cukup besar, padahal MGMP tiak memiliki bantuan dana untuk keperluan tersebut bahkan kadang tiak dianggarkan. Kenyataan ini menuntut kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang berkepentingan dan dapat membantu terlaksananya suatu kegiatan MGMP yang berkualitas, termasuk dukungan dana dari Dinas pendidikan Kabupaten.

2. Kekerapan pertemuan dan bentuk pertemuan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan

MGMP IPA sebagai wadah pembelajaran bagi guru-guru IPA telah berfungsi untuk meningkatkan kualitas guru IPA. Secara teoritis, proses pmbelajaran akan berhasil apabila dilaksanakan secara terus menerus dan kontuinitas. Untuk memperoleh hasil yang optimal, MGMP IPA dilaksanakan secara rutin, periodik dan terencana.

MGMP IPA Kabupaten Way Kanan dilaksanakan satu kali dalam satu bulan yaitu setiap hari kamis. Hal tersebut berdasarkan hasil musyawarah kerja kepala sekolah Kabupaten way kanan, dengan ketentuan pada hari itu guru tidak melaksanakan tugas mengajar disekolahnya. Harapannya kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan tidak menganggu rutinitas kerja guru di sekolah. Jika dilihat dari jangka waktu pertemuan, yaitu 1 kali dalam 1 bulan memang jangka waktunya terlalu lama. Sebaiknya pertemuan MGMP IPA dilakukan 2 minggu sekali

Bentuk kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan adalah kegiatan pengembangan kemampuan dan keterampilan guru dalam meningkatkan keberhasilan kegiatan belajar mengajar, antara lain : pengkajian kurikulum, penguasaan bahan materi pelajaran, penyusunan program pembelajaran, pengembangan metode pembelajaran, penggunaan media dan teknik evaluasi. Bentuk kegiatan lainnya adalah kegiatan perluasan wawasan dan kegiatan penunjang antara lain : pelatihan, seminar, lokakarya, studi banding ke sekolah-sekolah serta widyaiswara.

Kegiatan-yang dilakukan oleh MGMP IPA telah sesuai dengan harapan yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Dikdasmen (2000:5) mengemukakan bahwa kegiatan MGMP materi pokoknya antara lain : (1) meningkatkan pemahaman kurikulum, (2) mengembangkan silabus dan sistem penilaian, (3) mengembangkan dan merancang bahan ajar, (4) mengembangkan model pembelajaran efektif, (5) mengembangkan dan melaksanakan pembuatan alat peraga sederhana, (6) mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran berbasis komputer, (7) mengembangkan media dalam melaksanakan proses belajar mengajar

3. Materi pertemuan dan hasil yang diperoleh dari MGMP IPA Kabupaten Way Kanan

Berdasarkan hasil penelitian, secara umum materi yang disampaikan dalam MGMP IPA Kabupaten Way Kanan telah sesuai dengan harapan. Akan tetapi kualitas transfer materi dan kedalaman materi yang disampaikan dalam MGMP IPA tersebut perlu ditingkatkan. Pengurus hendaknya mengadakan need assesment dari anggota MGMP IPA. Materi hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan guru  dan perkembangan kurikulum, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Materi yang dijadikan sasaran peningkatan kualitas guru IPA melalui MGMP IPA Kabupaten Way Kanan meliputi peningkatan pemahaman kurikulum, pengembangan silabus dan sistem penilaian, pengembanga dan merancang bahan ajar, mengembangkan model pembelajaran efektif, mengembangkan dan melaksanakan pembuatan alat peraga sederhana, mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran berbasis komputer, mengembangkan media dalam melaksanakan proses belajar mengajar

4. Interaksi penguasaan konsep dasar dan penguasaan isu materi pembelajaran melalui MGMP IPA Kabupaten Way Kanan

Materi pelajaran IPA selalu berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai wadah interaksi pertukaran informasi, MGMP harus selalu uptudate berbagai macam informasi yang terbaru dan dapat mengatasi solusi perkembangan informasi tersebut lalu kemudian mengkomunikasikannya kepada anggota MGMP IPA. Dengan adanya MGMP IPA, guru-guru IPA dapat berinteraksi satu sama lain dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang berkenaan dengan mata pelajaran IPA sehingga terjadi penguasaan knsep dasar dan isu materi pembelajaran IPA.

5. Interaksi perencanaan persiapan pembelajaran dan proses belajar mengajar melalui MGMP IPA

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru adalah mampu menyusun perencanaan pembelajaran secara baik. Guru harus mampu menerjemahkan Standar isi dan standar kompetensi lulusan dalam bentuk silabus dan rencana program pembelajaran. Kemampuan-kemampuan yang diharapkan dimiliki tersebut disosilisasikan dan dilatih dalam forum MGMP IPA Kabupaten Way Kanan ini. Kemampuan guru yang perlu mendapatkan peningkatan dan pembinaan adalah kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Gagal atau berhasilnya proses pembelajaran sangat ditentukan kualitas guru dalam memproses dan mengelola pembelajaran. Berbagai upaya telah dilakukan pengurus dan anggota MGMP melalui pelatihan dan forum MGMP dalam rangka meningkatkan kualitas guru dalam proses belajar mengajar

Melalui MGMP IPA, guru-guru IPA telah berinteraksi secara profesional satu sama lain dalam merencanakan persiapan pembelajaran dan proses belajar mengajar. Persiapan belajar seperti program tahunan, silabus dan RPP dibahas melalui MGMP IPA Kabupaten Way Kanan.

6. Pemanfaatan media pembelajaran dan kendalanya dalam proses belajar mengajar melalui MGMP IPA Kabupaten Way Kanan

Satu diantara kelemahan guru pada umumnya adalah kemampuan dalam memanfatkan media pembelajaran yang kurang, lebih-lebih dalam pembuatan media. Selain itu kendala terbatasnya sarana pembelajaran dimasing-masing sekolah menuntut kreatifitas dari guru-guru. Guru yang profesional adalah guru yang mampu memanfaatkan dan membuat media pembelajaran secara baik. Dengan media pembelajaran, tujuan dan materi yang disampaikan akan lebih mudah diterima.

Sebagaimana pendapat Sadiman (1997 : 9) yang menyebutkan bahwa media pembelajaran memiliki banyak fungsi, diantaranya : (1) menyampaikan informasi dalam proses belajar, (2) memperjelas informasi pada waktu tatap muka dalam proses belajar mengajar, (3) mendorong motivasi belajar, (4)meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam penyampaian materi pembelajaran,(5) menambah variasi dalam penyajian materi, (6) memberikan pengalaman baru serta membuka carawala lebih luas dan lain sebagainya

Kendala-kendala tersebut dapat dikomunikasikan dan dicarikan solusinya melalui forum MGMP. Dalam pelaksanaannya, MGMP IPA Kabupaten Way Kanan telah mejadi wadah interaksi pemanfaatn media pembelajaran. Berbagai jenis media sederhana dan mutakhir dalam pembelajaran IPA telah disosialisasikan dan dipelajari melalui MGMP IPA. Begitupun cara pembuatan media dan alat peraga sederhana, bisa dipelajari di dalam forum MGMP IPA.

7. Kendala-kendala ynag ditemui dalam pelaksanaan Kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan

Dalam pelaksanaan kegiatan MGMP IPA, walaupun berbagai manfaat dan keuntungan dapat diperoleh melalui kegiatan MGMP IPA, namun terdapat berbagai kendala yang dihadapi meliputi dana, fasilitas, tutor, sampai degan tempat pelaksanaan kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan. Meskipun secara umum pelaksanaan kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan selama ini berjalan dengan baik, tetapi terdapat beberapa kendala yang tak bisa dihindari seperti jadwal kegiatan. Tidak semua guru IPA mengikuti kegiatan MGMP karena ada beberapa sekolah yang menjadwalkan gurunya mengajar pada hari kamis karena beban mengajar guru yang terlalu banyak dan jumlah siswa yang terlalu banyak dalam rombongan belajar. Hal ini tidak sesuai dengan hasil musyawarah kerja kepala sekolah. Selain jadwal, kendala lainnya yaitu letak geografis sekolah yang sangat berjauhan sehingga pusat pelaksanaan yang tidak menetap di suatu tempat serta minimnya fasilitas dan biaya operasional kegiatan. Walaupun demikian, kegiatan MGMP IPA tetap dilaksanakan seoptimal mingkin sesuai dengan rencana program, kemampuan, situasi dan kondisi pengurus dan anggota MGMP IPA Kaupaten Way Kanan.

BAB VI

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.   MGMP IPA Kabupaten Way Kanan dilaksanakan satu kali dalam satu bulan yaitu setiap hari kamis. Hal tersebut berdasarkan hasil musyawarah kerja kepala sekolah Kabupaten way kanan, dengan ketentuan pada hari itu guru tidak melaksanakan tugas mengajar disekolahnya. Harapannya kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan tidak menganggu rutinitas kerja guru di sekolah.

Bentuk kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan adalah kegiatan pengembangan kemampuan dan keterampilan guru dalam meningkatkan keberhasilan kegiatan belajar mengajar, antara lain : pengkajian kurikulum, penguasaan bahan materi pelajaran, penyusunan program pembelajaran, pengembangan metode pembelajaran, penggunaan media dan teknik evaluasi. Bentuk kegiatan lainnya adalah kegiatan perluasan wawasan dan kegiatan penunjang antara lain : pelatihan, seminar, lokakarya, studi banding ke sekolah-sekolah serta widyaiswara.

2.   Materi yang dijadikan sasaran peningkatan kualitas guru IPA melalui MGMP IPA Kabupaten Way Kanan  meliputi peningkatan pemahaman kurikulum KTSP, pengembangan silabus dan sistem penilaian, pengembangan dan merancang bahan ajar, pengembangan dan melaksanakan pembuatan alat pembelajaran sederhana, pengembangan dan melaksanakan program pembelajaran berbasis komputer dan pengembangan media dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

3.   MGMP Kabupaten Way Kanan merupakan wadah bagi guru IPA untuk saling berinteraksi secara profesional satu sama lain dalam memecahkan permaslahan-permasalahan yang berkenaan dengan mata pelajaran IPA. Ternyata dalam MGMP IPA Kabupaten Way Kanan telah terjadi interaksi penguasaan konsep dasar dan penguasaan isu materi pembelajaran IPA

4.   Melalui MGMP IPA Kabupaten Way Kanan, guru-guru IPA telah berinteraksi secara profesional satu sama lain dalam merencanakan persiapan pembelajaran dan proses belajar mengajar. Persiapan belajar seperti program tahunan, silabus, RPP dibahas melalui MGMP IPA Kabupaten Way Kanan

5.   Dalam pelaksanaannya, MGMP IPA Kabupaten Way Kanan juga telah menjadi wadah terwujudnya interaksi pemanfaatan media pembelajaran dan kendala penggunaan dalam proses belajar mengajar. Berbagai media, baik sederhana ataupun media mutakhir dalam pembelajar IPA disosialisasikan, dipelajari, dibahas dan dicarikan solusinya melalui MGMP IPA

6.   Meskipun secara umum pelaksanaan kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan selama ini berjalan dengan baik, tetapi terdapat beberapa kendala yang tidak bisa dihindari, seperti jadwal kegiatan. Tidak semua guru IPA mengikuti kegiatan MGMP karena ada beberapa sekolah yang menjadwalkan gurunya mengajar pada hari kamis karena beban mengajar guru yang terlalu banyak dan jumlah siswa yang terlalu banyak dalam rombongan belajar. Hal ini tidak sesuai dengan hasil musyawarah kerja kepala sekolah. Selain jadwal, kendala lainnya yaitu letak geografis sekolah yang sangat berjauhan sehingga pusat pelaksanaan yang tidak menetap di suatu tempat serta minimnya fasilitas dan biaya operasional kegiatan.

5.2. Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang peneliti peroleh maka ada beberapa rekomendasi sebagai berikut :

1.   MGMP IPA Kabupaten Way Kanan yang merupakan wadah terjadinya interaksi antara guru-guru IPA di Kabupaten Way Kanan serta telah memberikan manfaat yang besar bagi peningkatan mutu pendidikan IPA perlu dipertahankan, diteruskan dan dikembangkan untuk masa yang akan datang

2.   Melihat pentingnya MGMP IPA Kabupaten Way Kanan maka kepada guru-guru IPA terutama yang belum pernah mengikuti kegiatan tersebut diharapkan untuk dapat berpartisipasi aktif

3.   Pengurus MGMP IPA Kabupaten Way Kanan agar lebih meningkatkan kinerjanya sehingga MGMP IPA dapat lebih baik dari sebelumnya

4.   Pengurus dan MKKS Kabupaten Way Kanan yang telah menyepakati jadwal dapat dilaksanakan secara konsisten, sehingga tidak ada lagi guru yang tidak mengikuti kegiatan MGMP dikarenakan mengajar pada hari itu.

5.   Pengurus agar dapat menetapkan pusat kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan yang selama ini selalu berpindah-pindah dan hanya menggantungkan kepada anggota yang sekolahnya bersedia sebagai tempat pelaksanaan kegiatan

6.   Dinas Pendidikan dan Perpustakaan Kabupaten Way Kanan diharapkan dapat lebih memfasilitasi kegiatan MGMP IPA.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu H & Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2001.

Arikunto, Suharsimi. Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003.

———–, Suharsimi. Prosedur penelitian. Jakarta: Rineka cipta, 2002.

.

Guba, Egon G. Menuju Metodologi inkuiri naturalistik dalam evaluasi pendidikan, terjemahan Sutan Zanti Arbi. Jakarta: Djambatan, 1987.

Guba., Egon G, Yvonna S. Lincoln, Effective Evaluation, San Fransisco: Jossey Publishers 1991.

Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Karsa, 2004.

Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif. Malang: Universitas Muhammadyah, 2004.

Hartini, Sri. EValuasi Program Madrasah Aliyah Keagamaan di Madrasah Alyah Negeri 1, Yogyakarta: Tesis, PPs Universitas Negeri Yogyakarta, 2002.

Issac, Stephen and William B Michael. Handbook in Research and Evaluation. 2nd edition, San Diego: California, Edits Publisher, 1982.

Kaufman, Roger. and Susan Thomas, Evaluation Without Fear, London: 1980.

KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN

INTERAKSI PROFESIONAL MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN IPA KABUPATEN WAY KANAN

NO

Aspek yang diteliti

Indkator

Sumber data

Teknik pengambilan data

1 Dasar pembentukan MGMP IPA Undang-undang, PP, SK Kepala sekolah Wawancara

Dokumentasi

2 Pelaksanaan MGMP IPA Kepengurusan MGMP IPA, Uraian tugas dan tanggung jawab pengurus, jadwal dan tempat pelaksanaan, undangan, daftar hadir Kepala sekolah, pengurus, anggota Wawancara, observasi, dokumentasi
3 Materi dan program MGMP IPA Materi kegiatan, Program kerja Pengurus, anggota Wawancara, dokumentasi
4 Pengembangan MGMP IPA Pelatihan, workshop, studi banding Pengurus, anggota Wawancara, dokumentasi
5 Sarana Prasarana Fasilitas kegiatan MGMP IPA kepala sekolah, Pengurus Wawancara, dokumentasi
6 Biaya MGMP IPA Sumber dana, ana operasional kepala sekolah, Pengurus Wawancara, dokumentasi
7 Kendala yang dihadapi Permasalahan yang dihaapi saat ini dan pemecahan masalah kepala sekolah, pengurus Wawancara, dokumentasi

Jadwal Kegiatan Program MGMP IPA

Kegiatan Waktu Tempat

Hasil yang dicapai

Rakor 12 Januari 2009 SMPN 1 Baradatu Tersusunnya laporan kegiatan MGMP IPA
olimpiade IPA  tkt kabupaten 9 Maret 2009 SMPN 1 Bl. Umpu Terselenggaranya lomba siswa berprestasi Kabupaten dikirim untuk mengikuti lomba sejenis tingkat provinsi
Sosialisasi KTSP 18 April’ 2009 SMPN 1 Kasui Tersosialisasikannya  KTSP sebagai tindak lanjut dari pengiriman peserta mengikuti sosialisasi KTSP tingkat provinsi.
Penyusunan Soal ulangan semester Genap 10 Mei  2009 SMP N 3 Baradatu Tersusunnya soal semester genap tahun ajaran 2008/2009.
Sosialisasi SPM dan Undang – undang No.14/2006 20 Mei 2008 SMPN 1 baradatu Terbentuknya persepsi peserta terhadap SPM SMP provinsi Lampung dan Undang – undang No.14/2005 tentang Guru dan Dosen serta implementasinya terhadap perkembangan dan perubahan profesi guru ke depan
Pertemuan rutin setiap bulan Setiap minggu pertama Sesuai Kesepakatan Memetakan berbagai permasalahan guru sehari – hari dan berupaya menemukan solusi penyelesaiannya

Tabel.: Jadwal Rencana Kegiatan Wokshop MGMP IPA Kab.Way Kanan.

Hari

Waktu

Kegiatan/Materi

Nara Sumber/Instruktur

I

07.30 – 08.30

Persiapan Panitia

08.30 – 09.00

Pengarahan Pembukaan Dinas Pendidikan

09.00 – 09.30

Coffe break Panitia

09.30 – 10.00

Pree test Moneva

10.00 – 11.30

Prinsip dasar penyusunan model pembelajaran Fasilitator

11.30 – 13.00

Istirahat

13.00 – 14.30

Pengembangan Silabus sesuai model pembelajaran Fasilitator

14.30 – 15.15

Istirahat

15.15 – 16.00

Pengembangan bahan ajar sesuai model pembelajaran

Penyelesaian Administrasi

Fasilitator

16.00 – 16.45

Panitia/Peserta

16.45

Istirahat Panitia

II

07.30 – 08.30

Persiapan Panitia

08.30 – 09.15

Metode dan strategi pembelajaran Fasilitator

09.15 – 10.00

10.00 – 10.30

istirahat

Penilaian hasil belajar

Panitia

Fasilitator

10.30 – 11.15

11.15 – 12.00

Istirahat

12.00 – 13.30

Praktek penyusunan dan pengembangan model pembelajaran

Fasilitator

13.30 – 14.15

14.15 – 15.00

Ishoma

15.00 – 15.45

Diskusi dan penyusunan akhir hasil pelatihan

Fasilitator

15.45 – 17.15

17.15 – 17.30

Moneva Interval Petugas Moneva

17.00

Penutupan Panitia

1. Instrumen Pengurus MGMP IPA

PEDOMAN WAWANCARA

Nama                                       : ………………………………………..

Jabatan                                                : ………………………………………..

Asal Sekolah                            : ………………………………………..

Petunjuk :

1. Jawablah instrumen di bawah ini, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya

2. Jawaban anda tidak ada pengaruhnya terhadap penilaian atasan

3. Insrumen ini hanya di jawab oleh pengurus MGMP IPA

1.         Apa tugas dan tanggung jawab pengurus MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………..

2.         Bagaimana upaya pengurus dalam proses pembentukan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

……………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………….

3.         Apakah kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan sudah berjalan sesuai dengan tujuan ?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

4.         Apa saja kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan ?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

5. Bagaimana upaya pengurus agar pelaksanaan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan dapat terlaksana dengan baik?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

6.         Apa rencana pengurus untuk mengembangkan program MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

7.   Bagaimana upaya pengurus untuk menetapkan materi esensial dan cara menyampaikannya kepada siswa dalam MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

8.   Bagaimana upaya pengurus dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi guru pada pelaksanaan kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………

9.   Bagaimana upaya pengurus dalam meningkatkan kemampuan berinteraksi guru MGMP IPA Kabupaten Way Kanan pada kegiatan proses belajar mengajar?

………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………….

10. Bagaimana sarana dan prasarana penunjang kegiatan MGMP?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

11. Bagaimana upaya pengurus meningkatkan sarana dan prasarana penunjang kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

12. Bagaimana upaya pengurus untuk mengatasi kendala pada pelaksanaan kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

……………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………….

2. Instrumen Anggota  MGMP IPA

PEDOMAN WAWANCARA

Nama                                       : ………………………………………..

Jabatan                                                : ………………………………………..

Asal Sekolah                            : ………………………………………..

Petunjuk :

1. Jawablah instrumen di bawah ini, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya

2. Jawaban anda tidak ada pengaruhnya terhadap penilaian atasan

3. Insrumen ini hanya di jawab oleh guru IPA

1.         Apa manfaat adanya MGMP IPA Kabupaten Way Kanan bagi anggotanya?

………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………..

2.         Sebagai anggota MGMP IPA, apa yang anda lakukan di sekolah setelah anda mengikuti kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

……………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………….

3.         Perubahan apa yang anda rasakan setelah mengikuti kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan terhadap penguasaan konsep dasar materi pembelajaran IPA?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

4.         Usaha apa saja yang dilakukan oleh anggota  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan dalam hal penguasaan sumber belajar baru mata pelajaran IPA?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

5. Apa yang anda rasakan setelah mengikuti kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan terhadap perencanaan persiapan pebelajaran IPA?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

6.         Bagaimana anggota  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan dalam membahas penggunaan berbagai sumber belajar (media pembelajaran) dengan adanya pengembangan kurikulum?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

7.   Bagaimana upaya pengurus untuk menetapkan materi esensial dan cara menyampaikannya kepada siswa dalam MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

8.   Kendala apa saja yang anda rasakan selama mengikuti kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………….

3. Instrumen Penanggung jawab/Dinas Pendidikan Kabupaten

PEDOMAN WAWANCARA

Petunjuk :

1. Jawablah instrumen di bawah ini, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya

2. Insrumen ini dijawab oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan

1.         Apa yang menjadi dasar dalam pembentukan  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………..

2.         Bagaimana upaya Bapak/ibu agar dalam pelaksanaan kegiatan  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan ini dapat terlaksana dengan baik?

……………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………….

3.         Bagaimana upaya Bapak/ibu agar dalam mengevaluasi program kegiatan  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan ?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

4.         Bagaimana upaya Bapak/Ibu lakukan untuk mengatasi permasalahan/ kendala yang menghalangi  pelaksanaan kegiatan program  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

5. Bagaimana upaya Bapak/ibu untuk mengembangkan pelaksanaan program  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

6.         Bagaimana upaya Bapak/ibu agar program  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan ini dapat menetapkan komitmen tertinggi guru pada kepentingan siswa?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

7.   Bagaimana upaya Bapak/ibu untuk menetapkan materi esensial dan cara menyampaikannya kepada siswa dalam   MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

8.   Bagaimana upaya Bapak/ibu untuk mengembangkan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan agar peserta / guru bertanggung jawab dengan hasil belajar siswa?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

9.   Bagaimana upaya Bapak/ibu dalam meningkatkan profesionalisme guru melalui kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

10. Menurut evaluasi Bapak/ibu selama ini apakah seluruh peserta  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan sudah dapat meningkatkan kompetensi guru?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

11. Bagaimana upaya Bapak/ibu dalam meningkatkan kompetensi interaksi guru peserta MGMP IPA Kabupaten Way Kanan pada kegiatan pembelajaran?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

12. Bagaimana upaya Bapak/ibu meningkatkan sarana dan prasarana penunjang kegiatan MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

13. Apakah Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan ada rencana memberi subsidi untuk kegiatan    MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

14. Apakah Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan ada rencana mengirimkan narasumber dalam kegiatan    MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

4. Instrumen Kepala sekolah

PEDOMAN WAWANCARA

Nama                                       : ………………………………………..

Kepala  Sekolah                      : SMP………………………………………..

Petunjuk :

1. Jawablah instrumen di bawah ini, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya

3. Insrumen ini hanya di jawab oleh Kepala Sekolah SMP

1.         Apa yang dilakukan Bapak/Ibu selaku Kepala Sekolah sebagai bentuk dukungan terhadap MGMP IPA Kabupaten Way Kanan sebagai wadah interaksi guru-guru IPA Se Kabupaten way Kanan?

………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………..

2.         Apa harapan Bapak/Ibu dengan adanya MGMP IPA Kabupaten Way Kanan ini?

……………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………….

3.         Upaya apa yang Bapak/Inu lakukan dalam mengantisipasi adanya pegembangan kurikulum saat ini, terutama untuk guru-guru IPA Kabupaten Way Kanan?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

4.         Apa yang Bapak/Ibu lakukan untuk mengatasi permasalahan/ kendala yang ada pada  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

5. Bagaimana upaya Bapak/ibu agar guru yang diberi tugas mengikuti  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan dapat berinteraksi dengan sesama guru lainya?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

6.         Menurut Bapak/ibu, apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan interaksi guru   MGMP IPA wilayah Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

7.   Bagaimana upaya Bapak/ibu meningkatkan kualitas pembelajaran melalui interaksi peserta  MGMP IPA Kabupaten Way Kanan?

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………

LANDASAN TEORI DAN TEKNOLOGI MANAJEMEN

MANAGEMEN BERBASIS SEKOLAH

(MAKALAH)

OLEH :

KELOMPOK 3

1. ERIA APRIANI                                          NPM. 0823011025

2. NENSI       M. TARIGAN                       NPM. 0823011056

3. NOPIANTI                                                           NPM. 0823011058

4. NOVA YUNITA                                                    NPM. 08230111

5. ROSMEDI                                                              NPM. 08230111

6. SUSANA EKAWATI                     NPM. 0823011120

Tugas Akhir Mata Kuliah Dasar-dasar Teknologi Pembelajaran

Yang diasuh oleh Prof. Dr Yusufhadi Miarso, M.Sc dan

Dra. Adelina Hasyim, M.Pd

PROGRAM PASCASARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2008

BAB I

1.1.Latar belakang

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Ada beberapa tujuan pendidikan. Pertama bersifat mendasar, yaitu untuk mempersiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera, baik sebagai individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat, bangsa maupun antarbangsa. Tujuan atau fungsi pendidikan lainnya adalah peradaban, artinya pendidikan bermanfaat untuk mencapai suatu tingkat peradaban. Peradaban adalah hasil karya manusia yang semula dimaksudkan untuk mendukung kesejahteraan manusia. Tujuan pendidikan berikutnya adalah pada gilirannya menyiapkan individu untuk dapat beradaptasi atau memenuhi tuntutan-tuntutan sesuai wilayah tertentu yang senantiasa berubah.

Model pendidikan yang tepat adalah model pendidikan yang diharapkan oleh setiap warga negara. Model pendidikan yang dipandang tepat disebut customized design, yaitu desain yang sesuai dengan kondisi, konteks dan aspirasi masyarakat. Dengan demikian, model tersebut dapat mengakomodasikan berbagai ragam kepentingan, tingkat dan wilayah relevansi. Model yang tepat dalam pengelolaan pendidikan yang sesuai dengan alur berpikir tersebut adalah MBS. Untuk mewujudkan model yang tepat tersebut sekolah harus mengembangkan berbagai pilihan program baik program ilmu dasar, pendidikan nilai, program ketrampilan dan program tambahan lainnya. Penjabaran dari kurikulumnya, seperti strategi pembelajaran, sumber belajar, program pegayaan untuk pelaksanaan program yang disebutkan sebelumnya pun memiliki berbagai pilihan dalam upaya mengakomodasikan tuntutan masyarakat.

Manajemen berbasis sekolah dengan dukungan masyarakat berupaya memperkuat jati diri peserta didik dengan nilai-nilai sosial budaya setempat, mensinergikannya dengan nilai kebangsaan, kemanusian serta nilai agama yang dianut. Jelasnya, dimasa depan sekolah diharapkan memiliki inisiatif, kreatif, bahkan inovatif serta menerapkan pendekatan yang kontekstual dan mandiri dalam menjabarkan dan mengembangkan ide agar siswa dapat mencapai kompetensi dan merespons cepat keinginan masyarakat. Untuk mewujudkan itu, sekolah harus diberi kewenangan yang luas untuk mengambil keputusan pedagogis-instruksional yang didukung oleh masyarakat, karena itulah merupakan hakikat MBS  sesuai dengan UU Sisdiknas tahun 2003.

1.2.  Rumusan masalah

Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana landasan teori dan teknologi managemen di sekolah

1.3.  Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :

  1. untuk mengetahui lebih dalam tentang landasan teori dan teknologi managemen khususnya disekolah
  2. Untuk memenuhi sebagian tugas mata kuliah dasar-dasar teknologi pembelajaran

BAB II

Landasan teori dan konsep manajemen

  1. A. Konsep Manajemen

Istilah manajemen berasal dari kata kerja (bahasa inggris) “manage” yang padanannya dalam bahasa Indonesia “kelola” yang dapat berarti : menangani, mengendalikan, membuat patuh, mengurus, mengatur, mengubah atau melaksanakan dengan suatu tujuan. Semua istilah itu menunjukkan beragam pendekatan manajemen yang sebagian di antaranya lebih dapat diterima dan lebih produktif ketimbang yang lain. Pengertian manajemen secara umum adalah proses mencapai hasil melalui dan dengan orang lain dengan mendayagunakan sumber daya yang tersedia secara produktif. Inti manajemen sebagai proses adalah kerja sama bukan sekadar kerja bersama. Dengan pengertian ini kita dapat mengacu manajemen sebagai seni atau kiat, sebagai ilmu, sebagai organisasi, sebagai kelompok orang, sebagai disiplin atau sebagai proses.

Manajemen sebagai seni (kiat)

Sebagai seni atau kiat, manajemen adalah mengenai pelaksanaan fungsi dan tugas-tugas organisasi melalui dengan sejumlah orang. Disini tercakup penerapan teknik-teknik :

-          Hubungan manusia dengan masyarakat

-          Pendelegasian wewenang sebagai penugasan untuk berbagi tanggung jawab pelaksanaan tugas

-          Komunikasi yang termasuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan

-          Mengelola perubahan

Manajemen sebagai ilmu

Disini manajemen berkenaan dengan upaya membangun falsafah, kaidah, teori, prinsip-prinsip, proses, prosedur dan praktik yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi. Sebagai sebuah entitas, sekolah adalah organisasi yang seharusnya dikelola dengan prinsip-prinsip keilmuan.

Manajemen sebagai organisasi

Sebagai organisasi , manajemen adalah tentang pembuatan struktur formal suatu lembaga berdasarkan misi, tujuan, target, tugas dan fungsi tertentu. Misalnya organisasi kesejahteraan sosial dalam manajemen pemerintahan dapat mengacu pada pelayanan sosial, pendidikan dan kesehatan,  sedangkan dalam sekolah seperti pelayanan hubungan kepada wali murid, masyarakat di sekitar sekolah.

Manajemen sebagai orang

Manajemen dapat dipandang sebagai orang atau sekumpulan orang. Misalnya, seorang guru dapat mengatakan manajemen sekolah telah mengubah penjadwalan program pembelajaran dipertengan semester. Istilah manajemen disini dapat mengacu pada diri sendiri, sebagai kepala sekolah, atau semua orang yang terlibat dalam penyelenggaraan atau kepengurusan suatu sekolah. Organisasi sekolah mencerminkan pembagian tugas yang dikelompokkan menjadi sejumlah bagian atau depertemen. Manajemen sekolah  mencakup semua orang yang memimpin departemen atau bagian. Dalam istilah sehari-hari kita dapat menyebutnya sebagai pengurus.

Manajemen sebagai disiplin

Dalam pengertian ini, manajemen adalah suatu bidang studi dengan berbagai subyek dan topik. Pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam manajemen dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan atau pengalaman.

Manajemen sebagai proses

Manajemen sebagai proses mencakup fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, penyeliaan dan penilaian (evaluasi). Proses ini juga mencakup manajemen sumber daya (manusia, barang, dana, informasi, teknologi dan waktu).

B.        Fungsi manajemen

Ada lima fungsi utama manajer : merencanakan mengorganisasikan, mengarahkan, menyelia dan mengevaluasi. Secara singkat dapat dikelompokkan menjadi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Kelima fungsi itu membentuk suatu daur/lingkaran manajemen.

Perencanaan

Tindakan pertama kepala sekolah adalah merumuskan visi dan misi sekolah. Selanjutnya mengidentifikasi tujuan dan strategi untuk mencapainya. Hasil dari proses perencanaan adalah rencana sekolah. Rencana sekolah terdiri atas rencana kerja jangka menengah (empat atau lima tahun) dan rencana tahunan. Kedua jenis rencana ini harus disetujui rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan komite sekolah dan disahkan berlakunya oleh dinas pendidikan setempat. Melalui proses perencanaan, kepala sekolah bertujuan mengelola sekolah secara produktif (efektif dan efisien).

Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah upaya menata prioritas pendayagunaan sumber daya yang tersedia. Semua tindakan dan aktivitas dijadwalkan dalam suatu rencana tindakan. Rencana tindakan yang dijadwalkan mencakup target yang akan dicapai.

Pengarahan

Kepala sekolah perlu mengarahkan pelaksanaan rencana. Ia perlu menyediakan kepemimpinan dengan membagi-bagi pelaksanaan tugas di kalangan bawahan, mendelegasikan tanggung jawab dan memotivasi mereka. Proses pengarahan juga mencakup pengoordinasiaan dan pengendalian pasok dan penggunaan sumber daya.

Penyeliaan (supervisi)

Manajer perlu menyelia pekerjaan yang dilakukan, untuk memastikan bahwa semua kegiatan dilaksanakan sesuai dengan standar, dan jika perlu melakukan langkah-langkah perbaikan.

Penilaian (evaluasi)

Bagian akhir daur manajemen adalah menilai hasil yang dicapai dan membandingkannya dengan standar dan tujuan. Kinerja semua staf termasuk manajer perlu dinilai. Semua ini akan menghasilkan balikan atau informasi yang diperlukan untuk penyesuaian rencana di waktu yang akan datang

C.        Prinsip-prinsip Manajemen

Prinsip-prinsip manajemen yang sudah dikenal luas adalah pembagian pekerjaan, kewenangan, tanggung jawab, disiplin, kesatuan komando, kesatuan arahan, sentralisasi dan desentralisasi, rantai komando, remunerasi pegawai, kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi, persamaan dan keadilan, stabilitas status kepegawaian, inisiatif, semangat kelompok dan rentang manajemen. Tiga prinsip yang popular adalah sebagai berikut :

Rentang manajemen

Ini berarti jumlah optimum bawahan yang melapor kepada seorang atasan yang dapat di dayagunakan dan dikembangkan potensinya oleh atasan itu. Konsep ini bercitra baik ketimbang rentang kendali.

Koordinasi

Prinsip ini menyatakan bahwa kinerja organisasi yang efektif tercapai ketika semoa orang dan sumber daya disinkronisasikan dan semua kegiatan dilaksanakan secara terpadu dengan arahan yang jelas.

Pembagian kerja

Gagasan spesialisasi di semua jenis pekerjaan, baik manajemen maupun teknis, dipakai secara luas. Misalnya, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menyediakan pendidikan yang bermutu bagi peserta didik. Peranan kita ditingkat yang berbeda sebagai guru, kepala sekolah, pengawas, kepala dinas disasarkan atas prinsip-prinsip pembagian kerja. Disekolah tentulah ada pembagian kerja yang jelas dan umumnya organisasi pendidikan ditata ke dalam pembagian kerja berikut :

  • Unit kerja perumusan kebijakan : membuat dan mengendalikan kebijakan
  • Unit perencanaan/pengembangan : menjabarkan kebijakan ke dalam tindakan, tujuan dan sasaran dalam kaitannya dengan sumber daya
  • Unit pelaksanaan kebijakan
  • Unit monitoring dan evaluasi

Sekolah sebagai organisasi

Organisasi adalah wujud dari pengelompokkan pekerjaaan dan pembagian tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk mencapai tujuan tertentu. Sekolah merupakan organisasi sosial yag menyediakan layanan pembelajaran bagi masyarakat. Dalam manajemen sekolah, penting agar kepala sekolah memahami bahwa sekolahnya adalah organisasi yang memiliki tujuan tertentu, yang dapat kita iktisarkan konsep organisasi sebagai berikut :

1. Visi, misi, nilai, tujuan dan sasaran organisasi

Visi adalah impian yang menrangi arah mencapai tujuan. Tanpa visi yang jelas, orang-orang dalam organisasi berjalan meraba dalam kegelapan. Visi yang baik harus dapat menimbulkan motivasi anggota organisasi, mendorong keinginan untuk mencapai tujuan. Namun visi saja tidak cukup karena itu diperlukan misi. Misi adalah kegiatan(tindakan) utama yang dilaksanakan organisasi untuk mencapai visinya. Misi sekolah harus dapat menggerakkan sekolah dalam mewujudkan visinya menjadi dasar program pokok sekolah. Nilai sekolah adalah pedoman bersikap yang pada gilirannya mengatur tingkah laku seseorang. Nilai dipelajari melalui pengalaman, pendidikan dan pengamatan. Kepala sekolah perlu dengan sadar dan sengaja menyusun program dan menegakkan nilai-nilai yang disepakati dan diinginkan masyarakat untuk dijunjung tinggi disekolah. Nilai-nilai sekolah dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran, program bimbingan dan penyuluhan, dan sebagainya. Tujuan dan sasaran sebenranya terletak pada kadar spesifikasi sesuatu yang ingin kita capai. Tujuan sekolah merupakan peneyederhanaan dari visi, misi sekolah. Hal-hal yang peru diperhatikan dalam tujuan sekolah yaitu mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, peran staf dalam mencapai tujuan sekolah, kebutuhan masyarakat, sarana dan prasarana yang memadai, struktur organisasi dan tujuan pendidikan nasional. Organisasi memiliki aspek-aspek yang dinyatakan jelas dan dipahami anggotanya seperti : identitas organisasi ( nama, logo, simbol, emblem, motto dsb), rumusan visi, misi dan tujuan, fungsi organisasi dan hasil yang diharapkan.

2. Manajemen sekolah sebagai organisasi

Ada berapa aspek/komponen ditinjau dari karakteristik manajemen organisasi  seperti terlihat pada gambar di bawah ini :

Manajemen

Kurikulum              Tenaga        sarana        uang

Peserta didik                      proses belajar pembelajaran                      hasil

Konteks lingkungan                                   dampak

Penjelasan masing-masing komponen

a. Manajemen peserta didik

Peserta didik merupakan konsumen utama setiap program pendidikan sesuai UUSPN No.20 pasal 5 ayat 1. .Manajemen peserta didik dimulai saat siswa masuk sekolah dengan melalui seleksi yang adil dan jujur, rekrutmen dan pembinaan terhadap siswa, serta melaksanakan layanan bimbingan dan konseling bagi pemecahan masalah dan perkembangan karir belajar siswa. Manajemen sekolah bidang kesiswaan diarahkan untuk menumbuhkembangkan kecerdasan, minat dan bakat, meningkatkan keimanan dan ketakwaan dan untuk menegakkan disiplin siswa. Indikator siswa telah di manage dengan baik adalah memiliki grade yang baik, prestasi akademik, tidak bolos, aktif mengikuti kegiatan sekolah, tidak tinggal kelas dan tidak DO.

b. Manajemen Kurikulum

Adanya pengorganisasian kurikulum yang dapat berupa analisis kurikulum yang dijabarkan ke dalam komponen GBPP dan silabus. Dengan banyaknya inovasi dalam kurikulum, kepala sekolah dituntut untuk lebih responsif dan adaptif terhadap perubahan melalui reorientasi dan restrukturisasi kurikulum terutama dalam silabus dan implementasinya. Tapi yang lebih penting juga, siswa mampu menguasai kemampuan dasar dari tiap mata pelajaran, yang mengarah kepada pencapaian kualifikasi akademik. Pengembangan kurikulum seperti KBK dan KTSP merupakan respons pendidikan untuk meningkatkan mutu lulusan yang kompeten dalam menata hidup dan kehidupannya dengan menerapkan kemampuan yang dimiliki. Kompetensi dikembangkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup (life skills) dalam perubahan, pertentangan, ketidakpastian dan kerumitan

c. Manajemen Tenaga

Manajemen tenaga adalah upaya menata para personel sekolah dalam keahlian dan hubungan sosialnya, mulai dari personel diterima bekerja sampai kepada pengembangan karirnya.Tenaga yang perlu dikembangkan meluputi guru dan tenaga kependidikan lain, baik yang bertugas di dalam sekolah dan berinteraksi dengan  langsung dengan siswa, maupun yang bertugas diluar sekolah dan tidak berinteraksi langsung dengan siswa. Manajemen tenaga guru diarahkan kepada kemampuan profesional guru  untuk menyelenggarakan pembelajaran dan memiliki kematangan sosial maupun emosional dalam berinteraksi dengan siswa dan personel.

d. Manajemen sarana

Manajemen sarana adalah manajemen sarana sekolah dan sarana bagi pembelajaran, yang dapat meliputi ketersediaan sumber belajar bagi guru dan siswa, laboratorium, ruang kelas, perpustakaan dan lainnya. Semua sarana ini harus dapat didayagunakan secara optimal, dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi program pembelajaran. Sarana ini harus diusahakan sebagai tempat yang menyenangkan dan menarik untuk belajar. Mengingat bahwa pengadaan sarana tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit, maka perlu diusahakan untuk memperoleh bantuan dari masyarakat atau pemanfaatan yang ada dalam lingkungan. Sekolah yang sarananya dimanage dengan baik akan berbeda dengan sekolah yang sarannya kurang di manage dengan baik.

e. Manajemen Uang

Penataan keuangan sekolah harus didasarkan pada keadilan, efisensi dan transparansi. Keuangan sekolah meliputi  penggalian sumber dana pendidikan, pemanfaatan dana dan pertanggungjawabannya. Pendidikan yang berkualitas biasanya memerlukan biaya yang tidak sedikit, sementara anggaran yang tersedia sangat terbatas. Oleh karena itu pimpinan sekolah harus pandai mengelola keuangan dengan prinsip enterpreneur. Pimpinan sekolah harus mampu mengusahakan biaya dan menggali dana dari berbagai sumber seperti Orangtua, masyarakat umum, dunia usaha dan industri dengan berbagai cara.

f. Manajemen Proses Belajar pembelajaran

Proses belajar pembelajaran harus terfokus kepada siswa, yaitu agar dimungkinkan berkembangnya potensi setiap siswa secara optimal sesuai dengan kondisi objektif dan karakteristik mereka agar terjadi perubahan positif secara menyeluruh meliputi aspek nilai dan sikap, aspek intelegensi dan aspek motorik. Perubahan ini perlu dilakukan dengan pendekatan belajar aktif, inovatif, kolaboratif dan belajar tuntas yang intinya meningkatkan aktivitas siswa untuk belajar. Proses dengan pendekatan berbasis kompetensi dan penguasaan perlu dijadikan pedoman dalam pembelajaran sehingga siswa mampu menguasai sebagian besar tujuan pelajaran.

g. Manajemen Hasil

Hasil pendidikan adalah wujud kinerja sekolah. Kinerja sekolah merupakan prestasi yang dicapai dari semua proses dan perilaku sekolah itu sendiri. Berbagai ukuran atau penilaian dapat dilakukan atas penilaian sekolah seperti mutu lulusan yang dihasilkan, efektivitas dan efisiensi program, dan produktivitas prosesnya.Mutu ditentukan atas dasar kepuasan para konsumen dan para pemegang peran.

h. Manajemen konteks/lingkungan

Sekolah dapat dipandang sebagai organisasi yang berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan itu dapat berupa lingkungan fisik, nirfisik, masyarakat dan lingkungan organisasi atau kelembagaan. Lingkungan masyarakat terdiri atas orang-orang atau anggota masyarakat, organisasi masyarakat, lembaga adat, keagaamaan dan budaya yang berpengaruh dan berpotensi untuk mendukung penyelenggara pendidikan. Masyarakat merupakan mitra untuk mengembangkan sekolah. Partisipasi masyarakat dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan, oleh karena itu sekolah perlu menjalin kemitraan denga masyarakat. Realisasinya dapat berupa terwujudnya program kemitraan dalam dewan sekolah/komite sekolah dan adanya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sekolah

i. Manajemen dampak

Yang dimaksud dampak adalah hasil pendidikan jangka panjang, baik bagi individu yang bersangkutan maupun masyarakat secara luas. Manajemen dampak bukan semata-mata tanggung jawab sekolah, tapi sekolah berperan penting karena menghasilkan lulusan yang mampu mengembangkan dirinya dan berkarya. Dalam usaha mengetahui dampak pendidikan ini sangat penting sekali peranan alumni. Oleh karena itu pimpinan sekolah diharapkan dapat mendukung prakarsa untuk membentuk organisasi alumni.

3. Hubungan manusia  dengan  masyarakat, motivasi dan komunikasi

Manusia adalah makhuk sosial, hidup dan bekerja bersama manusia lainnya, menyadari kehadiran mereka dan berhubungan dengan mereka melalui berbagai cara komunikasi dan berinteraksi Tidak dipungkiri bahwa sebagian keberhasilan manajemen sekolah tergantung pada faktor ketersediaan sumber daya bahan, teknologi informasi, waktu dan dana. Namun keberhasilan sebagai manajer sekolah juga bergantung pada hubungan antara guru dan kepala sekolah, hubungan diantara guru, hubungan guru dan peserta didik, hubungan antara sekolah dan masyarakat sekitarnya.

Di semua tempat kerja, setiap orang melakukan pekerjaan. Kepala sekolah menorganisasi program bagi sekolah, melakukan supervisi. Setiap guru menyiapkan skema kerja, rencana pembelajaran dan catatan penugasan bagi kelas masing-masing, dan ada yang mendapat tugas tambahan diluar kelas. Suatu pekerjaan berdampak mempengaruhi pekerjaan yang dilakukan orang lain. Ini karena semua tugas yang berbeda dalam suatu organisasi saling berkaitan. Oleh karena itu, memastikan bahwa setiap orang bekerja secara terkoordinasi merupakan hal yang penting bagi kinerja sekolah.

Ketika dua orang bertemu dan berusaha membina hubungan kerja akan terjdi tiga tahapan, yaitu penjajakan, konsolidasi dan pemeliharaan. Sejumlah faktor motivasi dapat meningkatkan kinerja guru  dan staf seperti pekerjaan merka dihargai, mendapat tanggung jawab lebih besar, berkonsultasi dengan kepala sekolah secara teratur, ada kesempatan promosi dan pengembangan pribadi. Peserta didik juga perlu dimotivasi. Peserta didik tidak akan termotivasi jika mereka tidak merasa adanya kepedulian dan perlindungan disekolah, masalahnya tidak ditangani dengan baik,nguru tidak sabar dan tulus membimbing mereka, usaha mereka tidak dihargai guru dan kepala sekolah. Penting juga bagi kepala sekolah untuk tidak bersikap negatif terhadap staf. Kepala sekolah harus dapat menciptakan lingkungan kerja dimana semua staf dapat dengan bebas berbicara satu sama lain. Komunikasi dan hubungan manusia yang baik berjalan berdampingan. Ini juga harus terjadi antara sekolah dan lingkungan eksternalnya. Kepala sekolah memainkan peran penting sebagai penjabat hubungan masyarakat dalam upaya sekolah untuk meningkatkan kinerjanya.

  1. 4. Peranan pemimpin sekolah (kepala sekolah)

Kepala sekolah memiliki sejumlah peranan manajemen penting dalam upaya mengubah perilaku dan sikap peserta didik dengan dan melalui orang lain. Peran utama lain yang menggambarkan cara kepala sekolah melaksanakan pekerjaannya mencakup :

- administrasi dan manajemen

- kepemimpinan dan supervisi

- pembimbingan dan penyuluhan

- agen perubahan

  1. 5. Pendelegasian disekolah

Pendelegasian adalah proses yang dilakukan manajer, seperti kepala sekolah, untuk mengalihkan bagian dari wewenangnya kepada bawahan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab tertentu. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan ketika melakukan pendelegasian antara lain mendelegasikan wewenang dengan tanggung jawab yang jelas dan dikomunikasikan dengan baik. Prinsip-prinsip dan prosedur pendelegasian antara lain memilij bawahan yang akan menerima pendelegasian atas dasar kemampuan dan kemauan mereka menjalankan tanggung jawab yang didelegasikan, sifat dan cakupan pekerjaan yang akan didelegasikan haruslah jelas dan bagi kepentingan organisasi secara keseluruhan, tugas yang didelegasikan harus diuraikan dengan jelas. Hambatan dalam pendelegasian yaitu adanya kekhawatiran, kehilangan pengaruh dan tidak ada rencana.

6. Komunikasi dan negosiasi

Komunikasi adalah proses pertukaran informasi/pesan di antara pengirim dan penerima pesan/informasi dengan tujuan tertentu. Proses komunikasi mencakup unsur pengirim pesan, format dan isi pesan, waktu, penerima pesan dan balikan. Tanpa balikan, komunikasi tidak dapat dikatakan sebuah proses. Kepala sekolah menkoordinasikan sistem kerjanya dengan berkomunikasi. Oleh karena itu, kepala sekolah perlu memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik karena penting bagi keberhasilan kepala sekolah. Komunikasi dapat berlangsung secara lisan, tulisan, peraga visual, ekspresi wajah dan sebagainya, juga dapat berlangsung secara formal atau informal.

Esensi komunikasi yang efektif yaitu memperjelas tujuan, mengetahui penerima informasi, merumuskan pesan secara jelas, singkat dan padat, menggunakan cara berkomunikasi yang tepat, memperhatikan perilaku penerima pesan, antusias dan mengilhami serta menyimak dengan seksama. Rapat staf merupakan komunikasi antara kepala sekolah dan guru dalam penyelenggaraan sekolah. Rapat yang efektif bergantung adanya komunikasi yang baik, efektif dengan suasana saling mempercayai. Rapat harus direncanakan dengan seksama, dilaksanakan dengan baik dengan memperhatikan undangan rapat yang jelas, membuat notulen rapat yang lengkap. Komunikasi dapat terhambat karena terjadi distorsi, penghilangan sebagian isi informasi, terlalu banyak informasi, waktu, penerimaan pesan dan hambatan fisik.

Negoisasi adalah komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai kesepakatan, jika terdapat dua atau lebih kepentingan yang saling bertentangan. Orang-orang yang terlibat dalam negoisasi antara lain memerlukan data dan informasi yang akurat, dapat dipercaya dan mutakhir, penyajian informasi dan data yang baik dan tepat waktu, partisipasi dan keterlibatan pihak-pihak yang maslahanya mempengaruhi mereka secara langsung, serta kesempatan bagi semua pihak untuk menyampaikan alasannya. Untuk menjadi komunikator dan negogiator yang efektif, kepala sekolah perlu sering bertemu dan berbicara dengan peserta didik, guru dan wali murid, buat mereka melihat sikap positif anda dan usahakan agar mareka mengenal anda dengan baik

7. Pengambilan keputusan dan pemecahan masalah

Pengambilan keputusan adalah proses mengidentifikasi dan memilih arah tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan maslah. Pemecahan masalah adalah uapaya mencari solusi atas masalah yang timbul dalam organisasi. Proses pemecahan masalah mencakup enam unsur utama yaitu mengetahui adanya masalah, menganalisis masalah untuk menemukan sumbernya, mengidentifikasi alternatif solusi,memilih alternatif terbaik, melaksanakan solusi yang dipilih dan mengevaluasi efektivitasnya. Ada beberapa jenis keputusan yaitu keputusan rutin, keputusan inovatif, keputusan kebijakan dan keputusan operasional. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengambilan kepetusan yang efektif di sekolah yaitu sifat bidang keputusan, gaya manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah, kemampuan dan kemampuan untuk berpartisipasi dari personel sekolah.

Sekolah sebagai suatu sistem

Sekolah merupakan suatu sistem yang kompleks karena selain terdiri atas  komponen input-proses-output juga memiliki akuntabilitas terhadap konteks pendidikan dan outcome. Komponen-komponen tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena merupakan satu kesatuan utuh yang saling terkait, terikat, mempengaruhi, membutuhkan dan menentukan seperti gambar dibawah ini :

Gambar. Kinerja sekolah

Kualitas dan inovasi

INPUT

Input sumber daya:

Man, materials,

Methodes, money,                                                                   PROSES              OUPUT                    OUTCOME

Machine

Input manajemen:

Visi, misi, prog.skolah,                  Pengelolaan

Gaya kepemimpinan,                      Produktivitas                             Efektivitas

Iklim Dll                                                                                    Efisiensi internal

Efisiensi eksternal

A. Input sekolah

Input sekolah adalah segala masukan yang dibutuhkan sekolah untuk terjadinya pemrosesan guna mendapatkan output yang diharapkan. Input merupakan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat suatu generasi yang disebut sebagai manusia seutuhnya. Input sekolah dapat diidentifikasi mulai dari manusia(man), uang (money), bahan-bahan(materials), metode(methodes) dan mesin(machines). Input sumber daya manusia terdiri dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan lainnya, stakeholder dan siswa sebagai bahan utama(raw input). Uang merupakan masukan yang melancarkan pemrosesan raw input. Kedudukan uang dalam input pendidikan sangat penting karena untuk membiayai segala program yang telah ditetapkan, Bahan(materials) adalah bahan fisik yang diperlukan untuk menunjang terjadinya proses pembelajaran di sekolah guna membentuk siswa seutuhnya, baik berupa sarana prasarana, media, alat dan sumber pendidikan. Metode dalam pendidikan dikhususkan pada metode pembelajaran yaitu cara-cara, teknik, teknik dan strategi yang dikembangkan sekolah dalam melaksanakan proses pendidikan. Mesin-mesin(machines) adalah perangkat yang mendukung terjadinya proses pembelajaran seperti teknologi komputer, radio, televisi, dan semua media yang menggunakan teknologi.

Input manajemen adalah seperangkat tugas(disertai fungsi, kewenangan, tanggung jawab, kewajiban, dan hak), rencana, program, ketentuan menjalankan tugas, dan sebagainya yang ditanamkan oleh kepala sekolah kepada warga sekolah. Input manajemen merupakan input potensial bagi pembentukan sistem yang efektif da efisien. Melalui manajemen semua komponen input ditata sesuai fungsi dan peranannya.

B. Proses penyelenggaraan sekolah

Proses penyelengaraan sekolah adalah kiat manajemen sekolah dalam mengelola masukan agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan atau output sekolah. Proses berlangsungnya sekolah intinya adalah berlangsungnya pembelajaran yaitu terjadinya interaksi antara siswa dengan guru yang didukung oleh perangkat lain sebagai bagian keberhasilan proses pembelajaran. Proses sekolah dari dimensi kepemimpinan adalah terjadinya pemotivasian terhadap staf agar mereka terus semangat bekerja dan menghasilkan karya yang berguna dan bermutu serta menghasilkan keputusan kelembagaan. Oleh karena itu, tugas kepala sekolah sebagai agen perubahan harus selalu berupaya untuk terjadinya difusi inovasi pada staf. Pengelolaan program sekolah meliputi :

1.         Perencanaan, pengembangan dan evaluasi program

2.         Pengembangan kurikulum

3.         Pengembangan proses belajar mengajar

4.         Pengelolaan sumber daya manusia

5.         Pelayanan siswa

6.         pengelolaan fasilitas

7.         pengelolaan keuangan

8.         pengelolaan hubungan sekolah masyarakat

9.         perbaikan program

10. Evaluasi dan monitoring

C.        Output sekolah

Sekolah sebagai sistem, seharusnya menghasilkan output yang dapat dijamin kepastiannya. Output dari aktivitas sekolah adalah segala sesuatu yang dipelajari disekolah, seberapa banyak dan seberapa baik bisa berupa pengetahuan kognitif, keterampilan dan sikap.Output sekolah fokusnya pada siswa yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan. Output sekolah meliputi lulusan dan kinerja sekolah.  Lulusan disini ditinjau dari lulusan yang berguna bagi kehidupan, lulusan ini juga mencakup outcome. Kinerja sekolah diukur dari efektivitasnya, kualitasnya, produktivitasnya, efisiensi, dan inovasi.

1. Efektivitas sekolah

Efektivitas menunjukkan ketercapaian sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas sekolah terdiri dari dimensi manajemen dan kepemimpinan sekolah, guru, tenaga kependidikan dan perdonel lainnya, siswa, kurikulum, sarana-prasarana, pengelolaan kelas, hubungan sekolah dan masyarakat, pengelolaan bidang khusus lainnya. Menurut makmun, efektivitas sekolah pada dasarnya menunjukkan tingkat kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan hasil yang diharapkan sebagaimana telah ditetapkan. Parameternya dapat dinyatakan sebagai angka nilai dari lulusan dan sebagainya.

2.         Kualitas sekolah

Kualitas sekolah dapat diidentifikasi dari banyaknya siswa yang memiliki prestasi serta lulusannya relevan dengan tujuan.

3.         Produktivitas

Produktivitas adalah perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh dengan jumlah sumber yang digunakan, dapat dinyatakan secara kuantitas maupun kualitas. Kuantitas output berupa jumlah tamatan, kuantitas input berupa jumlah tenaga kerja disekolah dan sumber daya lainnya. Produktivitas dalam ukuran kualitas tidak dapat diukur dengan uang tapi digambarkan dari ketetapan menggunakan metode dan alat yang tersedia.Pendidikan yag produktif adalah pendidikan yang memiliki benefit baik yang sosial maupu lainnya.

4.         Efisiensi

Efisiensi lebih ditekankan pada perbandingan antara input dengan output. Suatu kegiatan dikatakan efisien bila tujuan dapat dicapai secara optimal dengan penggunaan sumber daya yang minimal. Efisiensi dapat diklasifikasikan menjadi efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal menunjuk kepada hubungan antara output pendidikan dan input yang digunakan untuk memproses atau menghasilkan output. Efisiensi eksternal adalah hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan tamatan dan kemanfaatan kumulatif yang didapat setelah kurun waktu yang panjang di luar sekolah.

5.         Inovasi

Inovasi adalah segala hal yang baru atau pembaharuan atau disebut juga penemuan, karena ditemukannya sesuatu yag baru baik dalam arti rekayasa atau yang betul-betul baru karena tidak ada sebelumnya. Pada sekolah, selain menjadi sumber inovasi, juga menerima dan menjalankan inovasi-inovasi untuk kemajuan sekolah. Oleh karena itu, diperlukan adanya kemampuan dalam difusi inovasi  yang mempunyai unsur-unsur sebagai berikut : kejelasan inovasi, unsur komunikasi dan unsur waktu.

Konsep Sekolah efektif dan MBS

Sekolah Efektif

Efektifitas merupakan suatu dimensi tujuan manajemen yang berfokus pada hasil, sasaran dan target yang diharapkan. Sekolah yang efektif adalah contoh sekolah yang menetapkan keberhasilan pada input, proses, output dan outcome yang ditandai dengan berkualitasnya komponen-komponen sistem tersebut. Semua upaya manajemen dan kepemimpinan terjadi di sekolah efektif diarahkan bagi usaha membuat seluruh peserta didik belajar. Sekolah efektif juga sebagai sekolah yang mengorganisasikan dan memanfaatkan semua sumber daya yang dimilikinya untuk menjamin semua siswa bisa mempelajari materi kurikulum yang esensial disekolah. Sekolah efektif menunjukkan kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan hasil yang diharapkan.

Ciri-ciri sekolah efektif :

CIRI-CIRI

INDIKATOR

Tujuan sekolah dinyatakan secara jelas dan spesifik Tujuan sekolah :

- dinyatakan secara jelas

- digunakan untuk mengambil keputusan

- dipahami oleh guru, staf dan siswa

Pelaksanaan kepemimpinan pendidikan yang kuat oleh kepala sekolah Kepala sekolah :

- bisa dihubungi dengan mudah

- bersikap responsif kepada guru dan siswa

-   responsif kepada orangtua dan masyarakat

- melaksanakan kepemimpinan yang berfokus pada pembelajaran

- menjaga agar rasio antara guru/siswa sesuai dengan rasio ideal

Ekspektasi guru dan staf tinggi Guru dan staf

- yakin bahwa semua siswa bisa belajar dan berprestasi

- menekankan pada hasil akademis

- memandang guru sebagai penentu terpenting bagi keberhasilan siswa

Ada kerjasama kemitraan antara sekolah, orangtua dan masyarakat Sekolah :

- Komunikasi secara positif dengan orangtua

- memelihara jaringan serta dukungan orangtua dan masyarakat

- berbagi tanggung jawab untuk menegakkan disiplin dan mempertahankan keberhasilan

- menghadiri acara-acara penting disekolah

Ada iklim yang positif dan kondusif bagi siswa untuk belajar Sekolah :

- rapi, bersih, dan aman secara fisik

- dipelihara secara baik

- memberi penghargaan bagi yang berprestasi

- memberi penguatan terhadap perilaku positif siswa

Siswa :

- menaati peraturan sekolah danaturan pemerintah daerah

- menjalankan tugas/kewajiban tepat waktu

Kemajuan siswa sering dimonitor Guru memberi siswa :

- tugas yang tepat

- umpan balik secara cepat/segera

- kemampuan berpartisipasi dikelas secara optimal

- penilaian hasil belajar dari berbagai segi

Menekankan kepada keberhasilan siswa dalam mencapai keterampilan aktivitas yang esensial Siswa :

- melakukan hal terbaik untuk mencapai hasil belajar yang optimal

- memperoleh keterampilan yang esensial

Kepala sekolah :

- menunjukkan komitmen dan mendukung program keterampilan esensial

Guru :

- menerima bahan yang memadai untuk mengajarkan keterampilan yang esensial

Komitmen yang tinggi dari SDM sekolah terhadap program pendidikan Guru :

- membantu merumuskan dan melaksanakan tujuan pengembangan sekolah

Staf :

- memperkuat dan mendukung kebijakan sekolah dan pemerintah daerah

- menunjukkan profesionalisme dalam bekerja

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Manajemen berbasis sekolah pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat dimana sekolah itu berada. Ciri-ciri MBS dilihat sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, pengelolaan SDM, Proses belajar mengajar dan sumber daya sebagaimana digambarkan dalam tabel berikut :

Ciri-ciri sekolah yang melaksanakan MBS

Organisasi sekolah

Proses belajar

Mengajar

Sumber daya manusia

Sumber daya dan administrasi

Menyediakan manajemen/kepemimpinan tranformasional dalam mencapai tujuan sekolah Meningkatkan kualitas belajar siswa Memberdayakan staf dan menempatkan personel yang dapat melayani keperluan siswa Mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan dan mengalokasikan sumber daya tersebut sesuai dengan kebutuhan
Menyusun rencana sekolah dan merumuskan kebijakan untuk sekolahnya sendiri Mengembangkan kurikulum yang cocok dan tanggap terhadap kebutuhan siswa dan masyarakat Memilih staf yang memiliki wawasan MBS Mengelola dana sekolah secara efektif dan efisien
Mengelola kegiatan operasional sekolah Menyelenggarakan pembelajaran yang efektif Menyediakan kegiatan untuk pengembangan profesi pada semua staf Menyediakan dukungan administratif
Menjamin adanya komunikasi yang efektif antara sekolah dan masyarakat Menyediakan program pengembangan yang diperlukan siswa Menjamin kesejahteraan staf dan siswa Mengelola dan memelihara sarana prasarana
Menggerakkan partisipasi masyarakat Berperan serta dalam memotivasi siswa Menyelenggarakan forum diskusi untuk membahas kemajuan kinerja sekolah
Menjamin terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah

MBS yang dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Tapi semua ini harus mengakibatkan peningakatan proses belajar mengajar. Manfaat penerapan MBS :

- memungkinkan orang-orang yang kompeten disekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran

- memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting

-  mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran

- mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan tingkat sekolah

- menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik

- meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan disemua level

BAB III

KESIMPULAN

Dari uaraian di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu :

1.   Ada beberapa aspek yang penting dalam manajemen yaitu visi, misi, nilai dan tujuan, fungsi dan prinsip manajemen, hubungan manusia dan masyarakat, pendelegasian, komunikasi dan negosiasi, pengambilan dan pemecahan masalah

2.   Ada lima fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, penyeliaan dan penilaian

3.   Karakeristik manajemen organisasi sekolah yaitu manajemen peserta didik. Manajemen kurikulum, manajemen tenaga, manajemen uang, manajemen proses belajar-pembelajaran, manajemen hasil, manajemen lingkungan dan manajemen dampak

4.   Sekolah sebagai suatu sistem memiliki komponen inti yang terdiri dari input, proses, output dan outcome

5.   Kinerja sekolah dapat diukur dari efektivitasnya, kualitas, produktivitas, efisiensi dan inovasi

6.   Sekolah efektif  dan MBS merupakan  penerapan manajemen Sekolah sebagai sistem dan organisasi

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Toni Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: